Skip to main content

Tak Apa, Kamu Sudah Berusaha

Berapa banyak orang yang pernah ngomong gitu ke kamu?

dengan tulus...

Kayaknya jarang banget, atau malah ga ada ya? Padahal kalau ada kalimat yang dimasukin ke kapsul terus dijual di apotek dan khasiatnya mirip antibiotik, mungkin itu deh kalimatnya: Ga Apa-apa, Kamu Sudah Berusaha. Kalau dijual di toko kosmetik, kalimat itu nempel di semua produk kulit yang punya klaim: antioksidan. Hati, kepala sampai kulit luar kamu bebas dari bakteri inferior, radikal bebas rasa bersalah dan minder. Tapi, pemakaiannya harus teratur. Tiga kali sehari, pagi, siang, malam.

Kalau aku, aku tempelin kata-kata itu di layar laptop, benda yang paling sering diliat tiap hari. Tiap baca kalimat itu, ga tau kenapa terhibur aja meskipun ga lagi ada apa-apa. Ajaib ya?

Diucapin ke diri sendiri aja segitu ngefeknya loh. Apalagi kalau ada orang lain yang bilang kayak gitu ke kamu. Dimengerti sama orang lain, adalah sebuah keistimewaan loh. Ga semua orang pernah dan punya kesempatan  itu.

Coba deh perhatiin, mungkin di sekitar kamu, lagi ada orang yang butuh antioksidan itu. Mungkin mereka habis ngelakuin satu kesalahan yang ga bisa dimaafin sama diri sendiri. Mungkin ada yang ngerasa dirinya ga berguna. Mungkin ada orang yang pesimis sama hidupnya sendiri. 

Duduk sebentar di sebelah mereka dan bilang "Ga apa-apa, kamu udah ngelakuin yang terbaik" atau "Ga apa-apa, kamu ga harus bisa dalam semua hal". Lukanya ga akan sembuh seketika, mungkin dia masih akan tetep kayak gitu di hari-harinya yang lain. Tapi, begitu tahu ada orang yang memperhatikan usahanya, ia akan merasa berharga.

Perasaan dihargai oleh diri sendiri, itu hal yang berharga. Ga semua orang sanggup dan dikasih kesempatan untuk itu. 

Jadi, akhir kata. Salam olahraga ^_^

Boong ding. Akhir kata, aku juga pingin bilang sama kamu yang baca tulisan ini: "kamu udah melakukan yang terbaik ko, orang-orang cuma belum liat usahamu. Masalahnya bukan kamu, orang-orang itu cuma perlu waktu"

Oh ya, untukku sendiri, belakangan ini, "antibiotik" itu terselip dalam lagu "Mari Kita Pergi Melihat Bintang", "Tak Apa, Baik-Baik Saja", dan "Ayo Melarikan Diri". Kapan-kapan, aku cerita tentang pertemuanku dengan tiga lagu ini ya.

Comments

Popular posts from this blog

Perihal Makan Bersama

Pagi-pagi sekali kami berpencar. Aku menyelesaikan masalahku, dia dengan dunia kerjanya. Pagi itu kami masih baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja. Siang hari juga berlalu dan tak ada masalah. Namun malam hari, perasaanku mulai tak menentu. Selepas Isya dia tak kunjung datang. Aku kelelahan setelah menghabiskan seharian dalam perjalanan panjang. Aku rebah. Dia datang dalam keadaan kuyu, sudah makan, katanya. Aku? Boro-boro makan, mandi pun tak sempat. Kupikir aku berkewajiban menunggunya pulang untuk makan bersama. Namun itu terbantahkan begitu saja. Memang tak ada perjanjian itu di awal. Hanya pikiranku sendiri yang berlebihan. Kusantap mie instan kuah dengan telur matang sempurna. Tak peduli sudah pukul dua satu lebih lima. Aku kelaparan. Tubuh yang tadi merengek minta ditidurkan kini terjaga. Aku harus tidur dalam keadaan kenyang. Bukan karena benar-benar lapar, tapi untuk sama-sama menunjukkan bahwa makan tak harus bersama.

POV

Sulit bagi orang lain untuk benar-benar memahami sudut pandangmu. Kamu sudah berusaha mati-matian, tapi dianggap sedang leha-leha tak peduli. Kamu sudah mengusahkan yang terbaik tapi tak dilirik. Kamu mengorbankan segalanya yang kamu miliki, tapi tak diapresiasi. Sudahlah, bukan kamu yang salah. Sekali lagi, kalau belum ada yang bilang padamu soal ini, kukatakan, kamu tidak salah. Setiap orang punya sudut pandang masing-masing. Orang tua, saudara, sahabat, atasan, rekan kerja, mereka semua bukan dirimu. Sekalipun mereka ada di lingkaran utama kehidupanmu saat ini, tapi MEREKA BUKAN KAMU. Mereka tidak punya kemampuan supranatural untuk tiba-tiba memahami seratus persen apa yang alami. Benar, mungkin mereka mengangguk-angguk lalu menepuk bahumu, bilang bahwa mereka paham. Tapi, benarkah begitu? Tidak. Sebagaimana mereka, kamu pun tidak demikian. Kamu tidak bisa memahami point of view seseorang seratus persen.  Let them with their point of view. Just let them.

Hello, My October

Jauh dan lama sekali perjalanan itu. Dulu kamu pikir, tempat tujuan adalah hal paling penting. Lama-lama, kamu sadar bahwa apa yang kamu temukan dalam perjalanan, jauh lebih berharga.  Tidak semua teman mengalami perjalanan sejauh dan selama dirimu. Bahkan bagi teman yang tidak pernah kita pikirkan, perjalananmu mungkin terhitung cepat. Di sini kamu sadar bahwa cepat dan lambat, itu relatif. Karena relatif, itu tidak menjadi patokan penting. Katanya, kecepatan bukan segalanya. Begitu pula kelambanan.  Berpikir hati-hati dan mendalam, katamu itu diperlukan. Tapi itu juga bukan segalanya. Kita perlu patokan. Kita perlu arah yang membuat kita sampai ke tujuan. Arah yang tidak mungkin diri kita sendiri yang menentukan. Kita hanya setitik debu di alam semesta. Bagaimana caranya tahu bahwa arah kita sudah benar, kecuali berpatok pada aturan Tuhan? Aturan Tuhan juga tidak mungkin datang sendirinya pada kita. Kita harus pandai membaca, mengingat, membaca lagi, mengingat lagi. Mutiara-...