Skip to main content

Memeras Otak

Hari jum'at, di perpustakaan daerah Sumedang.

Tak seperti biasanya, kudapati pengunjung hari ini lebih banyak daripada biasanya. Ah, biasanya. Sudah lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Berbagai kesibukan yang tak masuk akal merenggut waktuku di Jum'at siang. Hari ini, Alhamdulillah aku punya kebebasan lagi untuk datang.

Edisi mengantar anak didikku, Intan namanya. Pemalu luar biasa, sekaligus teguh pendirian. Dia ingin membuat kartu anggota perpustakaan. Tak hanya itu, anak-anakku yang lain juga datang. Aku senang karena tak perlu effort besar untuk menggerakkan mereka.

Oke, kembali kepada tema. Memeras otak. Aku yakin sekali bahwa otakku masih berfungsi dengan baik. Hai otakku sayang, bisakah kita bekerja sama menghasilkan sebuah karya? Jangan ada alasan yang tak masuk akal itu lagi. Jangan gunakan tameng hormon yang bergejolak lagi untuk menafsirkan moodmu yang tak karuan. Jangan juga kekurangan ide ini itu. Kita melangkah sekarang juga. 

Kereta sudah melewati stasiun nomor 30. Ini gawat. Lupakan angka-angka target itu. Kita mulai sekarang ok? Sampai jumpa jumat depan. Simpan hari ini sebagai hari sakral yang tak bisa digantikan oleh titah siapapun. Kamu adalah raja bagi dirimu sendiri.

Mari memeras otak. Mari berkarya.

Comments

Popular posts from this blog

Perihal Makan Bersama

Pagi-pagi sekali kami berpencar. Aku menyelesaikan masalahku, dia dengan dunia kerjanya. Pagi itu kami masih baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja. Siang hari juga berlalu dan tak ada masalah. Namun malam hari, perasaanku mulai tak menentu. Selepas Isya dia tak kunjung datang. Aku kelelahan setelah menghabiskan seharian dalam perjalanan panjang. Aku rebah. Dia datang dalam keadaan kuyu, sudah makan, katanya. Aku? Boro-boro makan, mandi pun tak sempat. Kupikir aku berkewajiban menunggunya pulang untuk makan bersama. Namun itu terbantahkan begitu saja. Memang tak ada perjanjian itu di awal. Hanya pikiranku sendiri yang berlebihan. Kusantap mie instan kuah dengan telur matang sempurna. Tak peduli sudah pukul dua satu lebih lima. Aku kelaparan. Tubuh yang tadi merengek minta ditidurkan kini terjaga. Aku harus tidur dalam keadaan kenyang. Bukan karena benar-benar lapar, tapi untuk sama-sama menunjukkan bahwa makan tak harus bersama.

Hello, My October

Jauh dan lama sekali perjalanan itu. Dulu kamu pikir, tempat tujuan adalah hal paling penting. Lama-lama, kamu sadar bahwa apa yang kamu temukan dalam perjalanan, jauh lebih berharga.  Tidak semua teman mengalami perjalanan sejauh dan selama dirimu. Bahkan bagi teman yang tidak pernah kita pikirkan, perjalananmu mungkin terhitung cepat. Di sini kamu sadar bahwa cepat dan lambat, itu relatif. Karena relatif, itu tidak menjadi patokan penting. Katanya, kecepatan bukan segalanya. Begitu pula kelambanan.  Berpikir hati-hati dan mendalam, katamu itu diperlukan. Tapi itu juga bukan segalanya. Kita perlu patokan. Kita perlu arah yang membuat kita sampai ke tujuan. Arah yang tidak mungkin diri kita sendiri yang menentukan. Kita hanya setitik debu di alam semesta. Bagaimana caranya tahu bahwa arah kita sudah benar, kecuali berpatok pada aturan Tuhan? Aturan Tuhan juga tidak mungkin datang sendirinya pada kita. Kita harus pandai membaca, mengingat, membaca lagi, mengingat lagi. Mutiara-...

POV

Sulit bagi orang lain untuk benar-benar memahami sudut pandangmu. Kamu sudah berusaha mati-matian, tapi dianggap sedang leha-leha tak peduli. Kamu sudah mengusahkan yang terbaik tapi tak dilirik. Kamu mengorbankan segalanya yang kamu miliki, tapi tak diapresiasi. Sudahlah, bukan kamu yang salah. Sekali lagi, kalau belum ada yang bilang padamu soal ini, kukatakan, kamu tidak salah. Setiap orang punya sudut pandang masing-masing. Orang tua, saudara, sahabat, atasan, rekan kerja, mereka semua bukan dirimu. Sekalipun mereka ada di lingkaran utama kehidupanmu saat ini, tapi MEREKA BUKAN KAMU. Mereka tidak punya kemampuan supranatural untuk tiba-tiba memahami seratus persen apa yang alami. Benar, mungkin mereka mengangguk-angguk lalu menepuk bahumu, bilang bahwa mereka paham. Tapi, benarkah begitu? Tidak. Sebagaimana mereka, kamu pun tidak demikian. Kamu tidak bisa memahami point of view seseorang seratus persen.  Let them with their point of view. Just let them.