Skip to main content

Aku dan 620 anak tangga galunggung.

Hari mulai beranjak siang ketika aku sampai di tangga pertama menuju bibir kawah galunggung. Keringat sudah membajiri tubuhku sejak tadi. Tenaga pun sepertinya hampir habis demi menelusuri pos demi pos di areal gunung galunggung yang dipenuhi oleh pasukan semut.

Aku terus berfikir, dengan cara apa aku sampai diatas sana sementara tubuhku dihinggapi rasa lelah yang sangat ini. Apalagi aku bukan seseorang yang begitu menyukai pelajaran olahraga. Tepatnya, aku tak berpotensi di bidang itu. Jadi wajar saja jika aku merasa lemas seperti ini. Satu-satunya yang kurpikirkan saat itu hanyalah mencoba mensugesti diri sendiri bahwa aku masih punya tenaga untuk menaklukan tangga-tangga ini. Aku mulai melangkah…

Satu, dua, tiga tangga kulewati dengan sabar tapi menginjak tangga ke lima, enam tenagaku seperti baru saja disapu angin tornado, tak berbekas. Akhirnya aku duduk dengan lunglai sambil mengatur nafas. Sementara temanku sudah mendahului dengan semangat 45nya. Aku sedikit kesal, kenapa aku tak bisa sepertinya? Aku terlalu lemah bahkan untuk sekedar menaiki lima tangga pertama. Setelah merasa mendapat tenaga kembali,aku memutuskan untuk bangkit lagi dengan tekad mengalahkan temanku tadi. Aku tak boleh kalah!!

Sepuluh tangga kulewati dengan susah payah. Kakiku mulai pegal dan enggan untuk melangkah ke anak tangga selanjutnya. Aku kembali berhenti di tangga itu. Kebetulan temanku ingin difoto. Jadi aku bisa beristirahat tanpa terlihat seperti sedang kelelahan. Aku memenuhi permintaan temanku untuk memfotonya dengan senang hati.

Aku terus bertekad untuk mengalahkannya sampai terlebih dahulu keatas sana. Dan aku mulai menyusulnya di beberapa anak tangga. Tapi lagi-lagi aku kelelahan dan terpaksa membiarkan temanku mendahului. Aku terduduk sambil menghadap ke bawah (arah tangga yang telah aku lewati), angin semilir berhembus mengelus beberapa butir keringat yang membasahi keningku. Aku merasa tenang, apalagi pemandangan di depanku tampak menakjubkan. Galunggung bagaikan benteng raksasa yang memeluk segenap keindahan alam tasikmalaya dengan anggun. Subhanallah…



Perasaanku mulai agak tenang melihat lukisan alam itu, lalu aku bandingkan dengan pemandangan di belakangku (ratusan tangga lain yang harus kudaki untuk mencapai puncak). Tring!! Sebuah ide mencul di otakku.
Pertama, kubuang jauh-jauh tekadku untuk mengalahkan temanku, menjadi yang paling dulu sampai diatas bukan tujuanku sebanarnya. Tujuanku sebenarnya adalah : sampai diatas dengan selamat!!

Kedua, aku memutuskan menaiki tangga dengan posisi mundur agar perasaanku selalu tenang dengan melihat pemandangan tadi. Jika aku tetap melihat ke depan, aku hanya akan fokus pada ratusan tangga dan hal itu hanya akan membuatku mengeluh. Aku tak boleh mengeluh.

Dan langkah terakhir, aku mulai dengan bismillah… aku pun mulai melangkah.
Bukan berarti kelelahan itu sirna sama sekali, aku tetaplah aku yang memiliki kekuatan fisik lebih terbatas dibanding teman-temanku yang lain tapi aku berusaha mengalihkan rasa lelah itu pada keindahan hamparan pegunungan yang terlukis diatas kanvas langit biru cerah itu. Beberapa kali aku terhenti untuk mengatur nafas atau sekedar menengok ke belakang, sejauh mana lagi aku akan sampai?

Aku terus melangkah mundur, meski beberapa temanku yang tadi tertinggal dibawah sudah menyusulku, aku tak peduli, aku tetap pada pendirianku.

Sekitar empat anak tangga terakhir, tenagaku seperti benar-benar hilang, tekad tak ingin kalah tadi kembali merasuki fikiranku, aku memaksakan diri untuk melangkah dan akhirnya sampai diatas. Setelah mencari tempat yang kosong, aku segera merebahkan diri diatas kursi bamboo. Kurasakan energiku sudah benar-benar habis saat itu, tapi sebuah senyum tersungging si bibirku, meski aku tak yakin sedang benar-benar tersenyum! Aku mendapat “sesuatu” dari perjalanan tadi. Sesuatu yang membuatku menitikkan air mata karena malu.

Setelah tenagaku kembali berkumpul, aku berjalan ke tepi jurang, melihat kembali jalur yang tadi kulewati dengan susah payah. Aku tersenyum. Tangga-tangga itu bagaikan kehidupan seseorang. Ketika usia kita semakin dewasa, cobaan akan semakin berat menerpa kita. Tenaga kita akan lebih terkuras habis karena masalah ini dan itu. Bandingkan dengan kita yang masih berumur sepuluh tahun. Cobaan seperti itu pasti tak akan menimpa kita.

Lalu aku teringat setumpuk masalah yang mengendap di kepalaku selama dua pekan terakhir ini. Aku pernah ingin menyerah, ingin lari dari masalah yang kuhadapi, ingin menggerutu atas semua cobaan yang allah berikan ini. Tapi selalu berhasil kutekan. Dan ketika melihat 620 anak tangga yang berhasil kulewati di bawah sana, aku mulai kembali sadar bahwa allah tak akan memberi cobaan yang tak bisa dihadapi oleh umatnya. Kenapa aku harus menyerah dulu? Apakah aku selemah itu untuk menghadapi ujian yang tak seberapa di umur yang masih terbilang muda ini?? Bagaimana aku bisa menghadapi cobaan di usia-usia selanjutnya jika saat ini saja aku sudah belajar untuk menyerah??

Fikirkanlah masalah dengan kepala dingin dan dengan perasaan se-rileks mungkin (meski tak mungkin benar-benar rileks disaat menghadapi masalah). Beranggapanlah bahwa masalah yang muncul itu disebabkan oleh diri kita yang memiliki sifat kurang baik sehingga kita tak akan mencari kesalahan orang lain. Selesaikan dulu masalah dengan diri kita sendiri agar masalah lainnya tak menumpuk.

Ucapan terimaksih :
Allah SWT –Kau selalu mengingatkanku ketika aku mulai lelah mencari makna hidup-
buat perjalanan penuh makna itu –moga aku bisa mengalaminya lagi suatu saat nanti-
Buat teman-teman seangkatanku “SZ QL” –you all are the best inspiration-
Juga buat kang faith beeman sang inspirator –makasih buat inspirasi-inspirasinya-

Comments

Popular posts from this blog

Perihal Makan Bersama

Pagi-pagi sekali kami berpencar. Aku menyelesaikan masalahku, dia dengan dunia kerjanya. Pagi itu kami masih baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja. Siang hari juga berlalu dan tak ada masalah. Namun malam hari, perasaanku mulai tak menentu. Selepas Isya dia tak kunjung datang. Aku kelelahan setelah menghabiskan seharian dalam perjalanan panjang. Aku rebah. Dia datang dalam keadaan kuyu, sudah makan, katanya. Aku? Boro-boro makan, mandi pun tak sempat. Kupikir aku berkewajiban menunggunya pulang untuk makan bersama. Namun itu terbantahkan begitu saja. Memang tak ada perjanjian itu di awal. Hanya pikiranku sendiri yang berlebihan. Kusantap mie instan kuah dengan telur matang sempurna. Tak peduli sudah pukul dua satu lebih lima. Aku kelaparan. Tubuh yang tadi merengek minta ditidurkan kini terjaga. Aku harus tidur dalam keadaan kenyang. Bukan karena benar-benar lapar, tapi untuk sama-sama menunjukkan bahwa makan tak harus bersama.

POV

Sulit bagi orang lain untuk benar-benar memahami sudut pandangmu. Kamu sudah berusaha mati-matian, tapi dianggap sedang leha-leha tak peduli. Kamu sudah mengusahkan yang terbaik tapi tak dilirik. Kamu mengorbankan segalanya yang kamu miliki, tapi tak diapresiasi. Sudahlah, bukan kamu yang salah. Sekali lagi, kalau belum ada yang bilang padamu soal ini, kukatakan, kamu tidak salah. Setiap orang punya sudut pandang masing-masing. Orang tua, saudara, sahabat, atasan, rekan kerja, mereka semua bukan dirimu. Sekalipun mereka ada di lingkaran utama kehidupanmu saat ini, tapi MEREKA BUKAN KAMU. Mereka tidak punya kemampuan supranatural untuk tiba-tiba memahami seratus persen apa yang alami. Benar, mungkin mereka mengangguk-angguk lalu menepuk bahumu, bilang bahwa mereka paham. Tapi, benarkah begitu? Tidak. Sebagaimana mereka, kamu pun tidak demikian. Kamu tidak bisa memahami point of view seseorang seratus persen.  Let them with their point of view. Just let them.

Hello, My October

Jauh dan lama sekali perjalanan itu. Dulu kamu pikir, tempat tujuan adalah hal paling penting. Lama-lama, kamu sadar bahwa apa yang kamu temukan dalam perjalanan, jauh lebih berharga.  Tidak semua teman mengalami perjalanan sejauh dan selama dirimu. Bahkan bagi teman yang tidak pernah kita pikirkan, perjalananmu mungkin terhitung cepat. Di sini kamu sadar bahwa cepat dan lambat, itu relatif. Karena relatif, itu tidak menjadi patokan penting. Katanya, kecepatan bukan segalanya. Begitu pula kelambanan.  Berpikir hati-hati dan mendalam, katamu itu diperlukan. Tapi itu juga bukan segalanya. Kita perlu patokan. Kita perlu arah yang membuat kita sampai ke tujuan. Arah yang tidak mungkin diri kita sendiri yang menentukan. Kita hanya setitik debu di alam semesta. Bagaimana caranya tahu bahwa arah kita sudah benar, kecuali berpatok pada aturan Tuhan? Aturan Tuhan juga tidak mungkin datang sendirinya pada kita. Kita harus pandai membaca, mengingat, membaca lagi, mengingat lagi. Mutiara-...