Skip to main content

Kamu dan Sepotong Es Krim Siang Itu

Ketika merasa lelah atau merasa sudah "mencapai batasmu", kamu tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Bukan tidak ingin sebenarnya, tapi tidak saja. Sudah terlalu terbiasa barangkali, lagipula, harus cerita pada siapa? Kamu selalu merasa orang itu harus "perlu" kamu ajak bicara. Tidak bisa sembarangan. Karena itu, semakin sulit bagimu untuk bercerita.

Pagi itu, perjalanan lebih dari tiga puluh kilo meter yang ditempuh menggunakan sepeda motor, cukup membuat kewalahan. Agenda di hari sebelumnya membuat energi cukup terkuras, ditambah suasana hati yang tidak kondusif. Kamu lelah, ingin sekali merebahkan tubuh dan beristirahat seharian. Tapi apakah bisa? Tentu tidak. Hari ini pertama masuk kerja kembali setelah akhir pekan. Meski berat, kamu tetap bekerja.

Resiko manusia dewasa memang begitu.

Siang harinya kamu masih harus mengerjakan tugas tambahan. Kantor mulai kosong karena jam kerja sudah usai. Kelelahanmu semakin memuncak. Jika ada orang asing di sebelahmu yang kebetulan mengajak ngobrol, ingin sekali kamu bicara bahwa kamu sedang lelah. Kamu berandai-andai bahwa dengan membicarakannya, bebanmu akan berkurang. Tapi, orang seperti itu juga tidak ada.

Sambil berjalan pulang, kamu mampir ke toko es krim. Es krim taro berbalut cokelat kacang menjadi pilihanmu. Dingin, manis, dan gurih. Di rumah, kamu melumat sepotong es krim dalam diam. Barangkali, tanpa sepatah kata pun, es krim itu sudah mengerti bahwa kamu sedang menghibur diri. 

Ketika perasaan "sudah pada batasnya" itu datang kembali, ingat saja cerita ini dan mampir ke toko es krim, kedai kopi atau barangkali warung indomie. Energimu harus kembali agar keadaan bisa menjadi baik-baik saja seperti semula.


Comments

Popular posts from this blog

Perihal Makan Bersama

Pagi-pagi sekali kami berpencar. Aku menyelesaikan masalahku, dia dengan dunia kerjanya. Pagi itu kami masih baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja. Siang hari juga berlalu dan tak ada masalah. Namun malam hari, perasaanku mulai tak menentu. Selepas Isya dia tak kunjung datang. Aku kelelahan setelah menghabiskan seharian dalam perjalanan panjang. Aku rebah. Dia datang dalam keadaan kuyu, sudah makan, katanya. Aku? Boro-boro makan, mandi pun tak sempat. Kupikir aku berkewajiban menunggunya pulang untuk makan bersama. Namun itu terbantahkan begitu saja. Memang tak ada perjanjian itu di awal. Hanya pikiranku sendiri yang berlebihan. Kusantap mie instan kuah dengan telur matang sempurna. Tak peduli sudah pukul dua satu lebih lima. Aku kelaparan. Tubuh yang tadi merengek minta ditidurkan kini terjaga. Aku harus tidur dalam keadaan kenyang. Bukan karena benar-benar lapar, tapi untuk sama-sama menunjukkan bahwa makan tak harus bersama.

Apa yang Salah?

 Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, pertanyaan itu mau nggak mau selalu muncul: apa yang salah?  Kok orang lain bahagia kita nggak? Kok orang lain keren banget kita enggak? Kok orang lain banyak temennya kita enggak? Apa sih yang salah? Geeezzz Padahal usaha kita udah maksimal banget, orang lain yang keliatannya santai-santai ko lebih hoki sih...? Otak manusia emang seneng banget mikirin hal-hal yang kadang nggak perlu dipikirin. Kalau jawabannya udah ketemu dan kita bilang "Oh ternyata ini toh yang SALAH" Lalu apa? Biasanya yang terjadi adalah menerima kesalahan itu sebagai cacat diri, terus ke sananya jadi pembenaran. Aku kan sekolahnya nggak setinggi dia, jadi wajar aja kalo... Aku kan ga secantik dia, jadi wajar kalo... Aku kan ga sekaya dia, jadi pantes aja kalo... Jangan suka cari-cari kesalahan, baik dari orang lain apalagi diri sendiri. Ganti fokusnya dengan apa yang harus diperbaiki. Gitu cenah. Haha, apaan sih malem-malem bahas yang gini. Tuh kan, ngebaha...

Harga Diri Tukang Martabak

DECLAIMER : tulisan ini tidak bermaksud merendahkan profesi apapun, siapapun, di manapun. Oke! Tiba-tiba aja kepikiran soal ini. Bahwa para tukang martabak yang aku temui di sepanjang perjalanan hidupku, mereka tidak ada yang berjualan secara berkeliling. Tukang martabak sepertinya memiliki harga diri untuk dicari pelanggannya, bukan mencari. Mereka menetap di satu tenda atau kios tertentu dan mengundang para pelanggan untuk berbelok, membeli, menikmati empuk, gurih dan legitnya penganan malam hari tersebut.  Nah, satu lagi. Mereka hanya berjualan di waktu menjelang malam. Oke lah, memang ada martabak yang sudah buka sejak pukul 2, tapi maksudku mereka seolah sepakat untuk memiliki target marketing orang-orang yang kelaparan sepulang bekerja. Martabak menjadi penganan yang menguasai waktu malam hari, khususnya malam minggu.  Coba bandingkan dengan tukang bakso yang sudah mulai keluar kandang sejak pagi dan bisa beredar di jalanan hingga tengah malam. Tukang bubur, tukang sate,...