Pagi-pagi sekali kami berpencar. Aku menyelesaikan masalahku, dia dengan dunia kerjanya. Pagi itu kami masih baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja. Siang hari juga berlalu dan tak ada masalah. Namun malam hari, perasaanku mulai tak menentu. Selepas Isya dia tak kunjung datang. Aku kelelahan setelah menghabiskan seharian dalam perjalanan panjang. Aku rebah. Dia datang dalam keadaan kuyu, sudah makan, katanya. Aku? Boro-boro makan, mandi pun tak sempat. Kupikir aku berkewajiban menunggunya pulang untuk makan bersama. Namun itu terbantahkan begitu saja. Memang tak ada perjanjian itu di awal. Hanya pikiranku sendiri yang berlebihan. Kusantap mie instan kuah dengan telur matang sempurna. Tak peduli sudah pukul dua satu lebih lima. Aku kelaparan. Tubuh yang tadi merengek minta ditidurkan kini terjaga. Aku harus tidur dalam keadaan kenyang. Bukan karena benar-benar lapar, tapi untuk sama-sama menunjukkan bahwa makan tak harus bersama.
Kita berubah. Kebiasaan kita pun berubah. Kita hari ini bukan lagi kita yang dulu. Hidup selalu berjalan ke depan. Karena berbagai kesibukan kita kadang melupakan sepenuhnya kita yang dulu. Apakah semua orang seperti itu? Maksudku, kembali menengok ke masa lalu tidak sepenuhnya tak berguna. Bayangkan kita versi muda duduk di depan kita saat ini sambil mendengarkan lagu yang selalu ada di playlist. Kita merasa bersemangat kembali meski telah menempuh hari yang berat. Kenapa dua tahun ini kita tidak pernah lagi melakukannya ya? Alasan bodoh seperti 'sibuk' benar-benar harus disingkirkan. Kita tahu kita tidak begitu sibuk, setidaknya untuk mencintai diri sendiri. Sepotong nada dan liriknya mengantarkan kita kembali pada potongan potret diri kala itu. Aku bersyukur karena hari ini berlalu dengan baik. Itu saja intinya. Kemarin aku mendapat kabar bahwa SK kami siap turun. Artinya kehidupan sebagai mutan akan segera berakhir. Butuh waktu satu tahun untuk mewujudkan ini. Malam ini ki...