Skip to main content

Posts

Diri Sendiri

Waktu seringkali terasa berjalan cepat ketika kamu menengok kembali ke belakang. Sekarang kamu sudah di sini dengan segala ide, pikiran dan prioritas kehidupan. Dalam sehari, berapa banyak porsi waktu yang kamu peruntukkan bagi diri sendiri? Kamu berpikir semakin dalam, sudah lupa kapan bersikap egois. Tunggu, kamu meralat. Memikirkan diri sendiri tidak sama dengan bersikap egois. Memikirkan diri sendiri artinya peduli. Jadi, seberapa banyak porsi itu? Sedikit sekali. Sebelum bekerja kamu banyak menghabiskan waktu scroll feed instagram, melihat kehidupan teman dekat sampai tokoh nasional yang keberadaannya nggak penting-penting amat buatmu. Tanpa sadar kamu sering memikirkan mereka. Apa yang mereka kerjakan hari ini, baju merk apa lagi yang mereka pamerkan, tempat wisata apa yang mereka kunjungi, kata-kata indah apa yang mereka posting, hingga isu politik nasional apa yang sedang hot.  Waktunya bekerja. Tentu saja di situ posisimu melayani orang lain. Pulang kerja, kamu lelah. Scro...

Dear, Me

Meja lipat di tepi jendela, kursi tinggi yang nyaman, kabut putih, hujan rintik-rintik, kemudian secangkir kopi panas. Buku catatan, pulpen warna warni, penggaris, sepidol, laptop, buku contekan kebahagiaan. Somebody to love. Peta perjalanan. Target-target super kecil. List pekerjaan harian. Mari kita wujudkan ^ ^

Sibuk adalah Obat

Kamu sudah tahu bahwa dirimu tidak bisa mengendalikan aliran perasaan. Namun kabar baiknya, kamu tahu kamu bisa mengendalikan apa yang kamu lakukan. Perasaan aneh itu terus mengalir melukai dirimu setiap detik. Tapi kamu mencoba mengalihkan fokus dengan tetap berjalan di atas kesibukan.  Tidak ada tepuk tangan atas keputusanmu itu. Tidak pula ada umpatan. Kamu berjalan seolah memang begini seharusnya. Kamu juga merasa tidak punya hak atas keluhan, apalagi menangis.  Kesibukan menggerus setiap menit dalam harimu, lebih menyakitkan dari perasaan itu. Lebih melelahkan, lebih menyesakkan. Kamu tidak peduli karena itu memang apa yang kamu mau. Rasa sakit yang dapat menutupi rasa sakit lainnya.  Di suatu malam, aku mengirim surat kepada angin. Malam itu juga sang angin menjawab bahwa kamu tidak sendirian. Ratusan, ribuan, ratus ribuan orang-orang yang pernah bertemu denganmu, mengobrol denganmu, atau bahkan hanya berpapasan denganmu, mereka semua mempunyai resep yang sama denga...

Tahu Bumbu Rabu

  Tinggal di kota tahu, tumbuh bersama jajanan seperti tahu gejrot, besar dengan hidangan serba tahu. Tahu bukan sajian aneh, baik bagiku maupun untuk kebanyakan orang di negeri ini. Murah, enak, sehat. Sebelum berani mengambil resiko (baca: kerepotan) masakan tahu yang kubuat paling-paling sebatas tahu goreng, tahu berontak, tahu krispi, tahu bulat yang tinggal menggoreng, tahu bala alias balahu. Tapi memasak rupanya soal mengambil tantangan baru. Bumbu masakan yang satu ini terdiri dari bawang bersaudara, cabe, garam, gula, kemiri, salam, sereh, kecap. Bumbu yang lebih rumit dari biasanya. Tekniknya pun tidak cukup dipotong, tapi perlu diulek. Artinya lebih banyak pekerjaan mengupas, mengiris serta lebih banyak cucian kotor. Resikonya lebih tinggi dari tahu-tahu goreng dengan kesulitan level 1. Kenapa aku memutuskan untuk membuat masakan yang penuh resiko ini? Nanti kapan-kapan aku ceritakan. Ini adalah percobaan kali ke tiga, menurutku lumayan ada progres. Percobaan pertama tahu...

Menerima Kebaikan

Berbuat baik itu butuh latihan, begitu pula menerimanya. Ada segelintir orang yang menerima kebaikan saja susahnya minta ampun. Sudah tahu repot, namun ketika dibantu menolak dengan sikap defensif. Orang yang berniat baik mau membantu itu jadi segan, lalu jadi enggan.  Jika itu diri kita sendiri, coba pertimbangkan sudut pandang orang yang berniat membantu. Melakukan kebaikan tidak selalu mudah. Sebaiknya jangan terlalu sering mematahkan niat baik seseorang hingga ia merasa terluka. Terima saja, abaikan rasa 'tidak enak' yang sebenarnya tidak terlalu jujur itu. Jika itu orang lain, coba untuk memaklumi saja, jangan cepat patah hati. Mungkin, orang itu terlalu keras pada dirinya sendiri sehingga merasa canggung menerima kebaikan dari orang lain. Barangkali dia terlalu terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Terima saja, berikan senyuman tulus dan tunjukkan bahwa kamu benar-benar berniat membantunya tanpa pamrih. Berbuat baik itu butuh latihan, begitu pula menerimanya. Jadi, bagaiman...

Kwetiau yang Rumit

  Memasak adalah seni mengolah kesabaran manusia. Cuci-cuci, iris-iris, tumis-tumis, goreng-goreng, tabur-tabur, koreksi rasa, aduk-aduk, koreksi rasa lagi, lalu bingung sendiri. Ini udah layak disebut makanan belum sih? Sore itu, setelah seharian menahan lapar, sewajan penuh kwetiau tersaji dengan meriah. Tidak ada kitab resep yang diikuti, hanya kenekadan yang diperhitungkan. Kupikir kwetiau akan lebih sehat dengan banyak sayuran. Tapi rupanya mengawinkan secara paksa antara makanan tidak sehat dan makanan sehat juga ada aturannya. Ada  yang matching alias rukun sentosa, ada yang berkelahi seperti ini. Rasanya tidak blended, terpisah satu sama lain.  Lain kali, mungkin takaran bawang daun harus mengalah. Bawang daun harus lebih beretika sebagai tamu, jangan mendominasi tuan rumah. Wortel juga tidak akan "kupaksa" lagi untuk berdamai dengan kwetiau. Lain kali, akan kucoba sayuran lain saja. Bahan: Kwetiau, wortel, cabe merah besar, bawang daun, bumbu bawang merah putih, ...

Tumis Kentang Wortel

Aku tidak pandai memasak. Belum. Tapi aku yakin memasak itu bukan bakat alami seseorang dari lahir melainkan hasil latihan. Jadi, bisa saja suatu hari nanti, itupun kalau tekadku kuat, aku bisa jago masak.  Jago masak tidak pernah jadi bagian dari tujuanku sebelum ini. Apa yang mengubahku? Banyak hal, di antaranya drakor-drakor yang penuh dengan adegan dari restoran ke restoran. Orang korea itu, ketika menikmati makanan enak, mereka mengekspresikannya dengan (agak) berlebihan menurutku. Tapi konon, itu cara mereka berterima kasih (baca: bersyukur) atas makanan yang mereka makan. Makanan yang baik (enak, cantik, sehat) bisa menjadi salah satu faktor meningkatkan kualitas hidup seseorang. Aku jadi lebih penasaran saja pada makanan, terutama makanan rumahan. Hal lain yang mendorongku adalah, karena aku mulai senang melihat-lihat panci, pan, alat masak apapun itu di pasar onlen. Aneh juga, kenapa hanya dengan melihat benda-benda itu, aku merasa senang. Kata seorang teman, mungkin aku s...

Kamu dan Sepotong Es Krim Siang Itu

Ketika merasa lelah atau merasa sudah "mencapai batasmu", kamu tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Bukan tidak ingin sebenarnya, tapi tidak saja. Sudah terlalu terbiasa barangkali, lagipula, harus cerita pada siapa? Kamu selalu merasa orang itu harus "perlu" kamu ajak bicara. Tidak bisa sembarangan. Karena itu, semakin sulit bagimu untuk bercerita. Pagi itu, perjalanan lebih dari tiga puluh kilo meter yang ditempuh menggunakan sepeda motor, cukup membuat kewalahan. Agenda di hari sebelumnya membuat energi cukup terkuras, ditambah suasana hati yang tidak kondusif. Kamu lelah, ingin sekali merebahkan tubuh dan beristirahat seharian. Tapi apakah bisa? Tentu tidak. Hari ini pertama masuk kerja kembali setelah akhir pekan. Meski berat, kamu tetap bekerja. Resiko manusia dewasa memang begitu. Siang harinya kamu masih harus mengerjakan tugas tambahan. Kantor mulai kosong karena jam kerja sudah usai. Kelelahanmu semakin memuncak. Jika ada orang asing di sebelahmu yang k...

Lagu Patah Hati

Coba searching di Youtube lagu-lagu ini: - I don't Love You dari Urban Zakapa - The End dari Kwon Jin Ah - Like It dari Yoon Jong Shin - And The End dari Jung Seung Hwan - If It was You dari Jung Seung Hwan Itu sebagian dari playlist "Patah Hati" yang sering kudengarkan ketika sedang butuh dongkrakan mood. Ha? Ga salah? Dalam keadaan tertentu, aku lebih terhibur dengan mendengarkan lagu sedih. Bukan sekedang melodinya yang mendayu dan menyayat, tapi karena aku paham lirik lagunya tentang apa. Kebanyakan ya itu dia, tentang patah hati. Bukan patah hati biasa, tapi patah hati yang sebegitu menyedihkannya. Aku belum pernah dan semoga tidak akan pernah mengalami perasaan asli seperti itu. Tapi anehnya ketika mendengar, ada sensasi perasaan pedih yang menyenangkan (sampai sini, aku takut dikira psikopat >_<) . Begini begini, maksudku ada sensasi perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dan aku merasa itu mempengaruhiku. Aku jadi sedih dalam hitungan detik ketika m...

Kosong

Semuanya terlihat putih tak bernoda di depan sana. Kamu menahan langkah ragu, tak tahu arah. Kepalamu mulai berisik menganalisis. Apa yang sedang terjadi di depan sana? Mengapa kamu tidak bisa melihat apapun? Sebentar, apa yang salah? Jalan di depan sana, matamu, atau otakmu? Kakimu semakin enggan melangkah. Kekosongan itu menyedotmu ke dalam pusaran tak dikenal. Pusaran yang membuatmu tidak senang tapi juga tidak sedih. Tidak bersemangat tapi tidak malas juga. Baik tubuh maupun pikiranmu tertahan di awang-awang dengan latar belakang serba putih.  Baru terpikir bahwa kekosongan lebih mengerikkan daripada yang kamu pikirkan selama ini. Kamu rindu garis-garis rumit menyerupai benang kusut yang selalu membuatmu menyeret kaki sepulang kerja. Kamu juga merindukan coretan abstrak pada catatan kuliah saat obrolan dosen menjadi super membosankan. Kamu rindu segala hal yang tidak kosong meskipun itu keluhan, cacian, tangisan bahkan kutukan. Kamu harus keluar dari kekosongan ini untuk segera...