Skip to main content

Posts

Mom Brain

Katanya, otak seorang ibu memang berubah setelah melahirkan anak. Gampang lupa. Kalau istilah komputer, barangkali juga mudah nge-hang. Aku merasakannya sendiri. Sulit mencerna pernyataan panjang seseorang, apalagi yang tiba-tiba curhat tanpa pembukaan. Tidak menjelaskan duduk masalahnya. Ga ada konteks. Penyebab utamanya adalah kelelahan. Bukan hanya seputar mengurus anak, tapi juga ketika mulai bekerja, berinteraksi dengan lingkungan baru, budaya baru, tuntutan yang baru. Aku tidak lagi merasa antusias. Aku ingin menjadi manusia biasa saja, kalau bisa invisible. Aku tidak ingin dinotice. Tidak mau tahu urusan gosip kelompok sebelah. Aku juga tidak mau tahu aib-aib senior. Aku hanya ingin menjalani hari dengan tenang, tanpa harus mengingat banyak hal. Otatakku menolak bekerja lebih keras. Aku bisa menangis lebih dari sekali dalam sehari. Semuanya kulipat diam-diam, aku tidak mau mendapat pertanyaan. Tanya 'mengapa' akan membuat otakku berpikir keras. Sedangkan aku juga tidak t...

Hari-hariku Dua Bulan ke Belakang

Setiap bangun tidur, tubuhku terasa lelah bukan main. Namun di saat bersamaan, pikiranku langsung tertuju pada runtutan tugas pagi itu. "Ah, aku harus menanak nasi" "Aku juga harus memasak mpasi" "Sarapan pake apa ya?" "Mandi dulu deh, sekarang hari senin..." Setelah mandi Menanak nasi itu urutannya : nyuci beras, masak nasi, kukus nasi, mendinginkan nasi Bikin mpasi itu urutannya : cemplung nasi, cemplung lauk, sayur, bumbu, blender, masukin ke kontainer Masak lauk : kocok telur, bumbu-bumbu, goreng Manasin air : masukin air ke teko, simpan teko di kompor Di sela-sela itu, kalau si kecil tidak dijaga ayahnya, aku akan bolak-balik menjaganya. Lalu keringat sudah bercucuran lagi. Makan, sambil menyeduh kopi yang entah sempat diminum atau tidak. Lalu pakai baju, make up, sambil nonton tekotok. Biasanya di waktu-waktu ini pengasuh datang. Tiba-tiba saja lima menit lagi menuju pukul 7. Pulang kerja, badan sudah tentu cape, namun bahagia bertemu lagi ...

Empat Ribu Perak

Seharian tadi, di dompetku hanya ada uang sejumlah empat ribu perak. Udara yang panas selalu membuatku ingin pergi memesan segelas es kopi. Namun melihat kondisi uang seperti itu, aku urungkan niat. Aku menahan lapar di sela lelahnya hari, mengajar dan mengobservasi mahasiswa yang sedang praktik. Keuangan sedang diuji, dan konon itulah ujian paling mutlak yang selalu hadir pada awal-awal fase pernikahan. Aku sudah mempersiapkan diri untuk itu. Bulan ini, kami benar-benar sedang diuji. Tabungan terkuras habis. Diantaranya aku harus beli laptop agar pekerjaanku tidak terhambat. Lalu uang untuk menggaji pengasuh si kecil. Rata-rata bisa menghabiskan hampir 40% penghasian kami berdua. Lalu, alhamdulillah aku terpanggil untuk PPG, dan untuk itu aku harus mengurus beberapa dokumen, yang tentu saja berbayar. Alhamdulillah, Allah cukupkan. Aku berdo'a dan mengulang-ulang keyakinanku bahwa yang mengurus kami adalah Allah. Pokoknya serumit apapun, Allah akan atur agar kami menemui jalan kelu...

Sulit Tidur

Sebenarnya ini kondisi yang jarang terjadi setelah menikah. Di awal-awal pernikahan, jam tidurku entah kenapa otomatis ikut jam tidur suami. Jam delapan sudah ngantuk sekali. Begitu punya anak, jam tidurku tak banyak berubah. Kelelahan di siang hari membuatku cepat terlelap sambil menidurkan si kecil. Meskipun seringkali aku terbangun di malam hari karena si kecil terbangun ingin menyusu. Dua hari ke belakang tidurku sangat tidak nyenak. Aku bahkan dapat mengingat mimpiku secara detil. Mimpi yang kurang bagus. Begitu bangun tidur tubuhku lelah luar biasa. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Namun hari ini, tepatnya siang tadi, tidurku begitu nyenyak. Si kecil juga ikut-ikutan tidur. Dari sekitar pukul setengah dua sampai setengah lima. Sore harinya badanku segar dan aku sudah punya firasat tidurku malam ini akan sulit. Sengaja, aku meminum segelas es kopi, tapi itu pun bukan kopi banget karena persediaan kopi di rumah tinggal segitu, kurang lebih satu sendok teh saja. Alhasil aku sulit tid...

Comeback Home

Blogger pada akhirnya menjadi tempat pulangku. Meskipun budaya ngeblog sudah ketinggalan jaman, tapi nyatanya aku betah dan kembali lagi. Hampir dua tahun terakhir aku kelimpungan mengembalikan kebisaanku menulis jurnal. Terlebih tujuh bulan terakhir setelah si kecil lahir. Aku merasa sempat kehilangan diriku sendiri. Kemudian, lewat serangkaian peristiwa yang terjadi, aku kembali lagi. Laptopku si uti, rusak. Mati total dan enggan kembali kuhidupkan. Aku memilih mengalokasikan uangnya untuk membeli laptop baru. Inginnya membeli Lenovo Yoga Carbon yang warna casingnya putih itu, namun harganya belum bisa kujangkau. Ini saja dulu, Advan Soulmate bikinan Indonesia, harga 2,3 jutaan. Tidak perlu nyicil. Alhamdulillah. Hanya saja, kekurangannya, storagenya begitu kecil hanya 128 GB. Aku tak kehabisa akal. Kugunakan cloud untuk menyimpan data-data ke depan. Termasuk Diya 2024. Aku sudah jarang menulis, namun aku tidak ingin berhenti sama sekali. Akan kuusahakan terus menulis dengan modal la...

Mengenang Masa Pandemi

Rasanya seperti mimpi! Itu barangkali yang sering terlintas di benak setiap kali mengingat masa pandemi Covid-19 yang begitu mencekam. Masa-masa bekerja dari rumah itu, membuat setiap dari kita memiliki hobi baru. Bagiku ada satu channel Youtube yang hampir setiap hari kutonton. Saat ini aku lupa nama channelnya. Ia bercerita tentang keseharian ibu rumah tangga dan beberapa pemikiran yang cukup relate denganku. Begitu sukanya bahkan aku mencoba meniru konsep video youtube tersebut meskipun tentu saja jauuuuh sekali hasilnya.  Aku berencana menghapusnya dari drive komputer. Maka, aku lampirkan saja dua video itu, di sini. Citepok Ciamis

Minggu Ke Tiga

Sudah memasuki minggu ke tiga di tahun 2024. Begitu pula dengan usia putra pertama kami. Ia tidak lagi malu-malu saat menyusu. Bahkan kedua tangan dan kakinya sudah bisa bergerak penuh tenaga saat tangisnya tak kunjung direspon dengan tepat. Jadwal bergadangnya pun sedikit sudah mulai bisa diprediksi. Ia bangun sejak ba'da isya, kemudian baru terlelap sekitar pukul 2. Selebihnya pulas hingga pagi. Seperti pagi ini. Setiap kali melihat wajahnya, aku merasa hampir tak percaya bahwa makhluk mungil ini pernah tinggal di dalam perutku sekian lama. Seiring dengan itu, kejadian di hari kelahirannya juga kembali berputar dalam ingatan, tentu beserta memori rasa sakit, lelah, takut, sampai kemudian lega. Aku bersyukur bisa melewati hari itu dengan "cukup" baik. Rasanya sampai hari ini pun, waktuku berpusat pada makhluk mungil ini. Namun akan kuusahakan aku tetap memegang kendali  atas diriku, waktuku, kegiatanku, serta tujuanku. Aku berjanji akan lebih konsisten lagi membaca tahun...

2024 dan Aku di Dalamnya

sesaat sebelum kepalanya plontos dicukur sang Nini : ) Baru melangkah dua tahun sejak 2022, namun perubahan yang terjadi sangat drastis. Hai, apa kabar aku di tahun 2024? Tepat di akhir tahun kemarin, di malam pergantian tahun, aku melahirkan putra pertama kami. Seorang bayi laki-laki yang sehat, berambut tebal dan menangis saat dilahirkan ke dunia. Sebelas menit sebelum lahir, kejadian gempa menggegerkan kami semua. Bukan hanya yang ada di rumah bersalin, namun kami yang berada di seluruh kota Sumedang malam itu. Aku sedang rusuh melawan rasa nyeri sekaligus mulas yang baru kupelajari dan kualami hari itu. Selama beberapa detik kehilangan selera untuk mengeluh. Namun begitu gempa berlalu, aku hanya ingin cepat-cepat disuruh mengedan.  Mundur ke akhir April, pertama kalinya aku membeli test pack ke apotek. Meski bukan sebuah dosa, tapi aku malu saat mengatakannya pada petugas. Besok paginya aku mencoba menggunakan test pack tersebut dan melihat dua garis merah terbentuk. Kabar baik...

Kecewa

Kecewa tidak pernah menjadi bagian dari rencana manusia. Tentu saja, makhluk gila mana yang ingin dikecewakan secara sengaja. Tapi rasanya hampir semua manusia di muka bumi ini pernah merasakan hal itu. Tulisan ini juga dibuat ketika aku ingin terbebas dari rasa kecewa, meskipun rasa itu terang-terangan menggerogotiku belakangan ini. Aku merasa semua kebaikanku sia-sia. Ha. Padahal sejak dulu aku sudah tahu bahwa rumus kecewa adalah berharap ditambah manusia. Memang tahu beda dengan paham. Karena kejadian yang mengecewakan ini, akhirnya aku lebih paham bahwa manusia apapun jabatannya, selekat apapun ia dengan hidup kita, sebaik apapun ia selama ini kepada kita, tidak lantas menutup kemungkinan bahwa dia akan mengecewakan kita. Lalu bagaimana menyembuhkan ini? Hm ya, aku sendiri tidak tahu. Aku rasa, tidak akan kutemukan dalam waktu dekat. 

Hello, My October

Jauh dan lama sekali perjalanan itu. Dulu kamu pikir, tempat tujuan adalah hal paling penting. Lama-lama, kamu sadar bahwa apa yang kamu temukan dalam perjalanan, jauh lebih berharga.  Tidak semua teman mengalami perjalanan sejauh dan selama dirimu. Bahkan bagi teman yang tidak pernah kita pikirkan, perjalananmu mungkin terhitung cepat. Di sini kamu sadar bahwa cepat dan lambat, itu relatif. Karena relatif, itu tidak menjadi patokan penting. Katanya, kecepatan bukan segalanya. Begitu pula kelambanan.  Berpikir hati-hati dan mendalam, katamu itu diperlukan. Tapi itu juga bukan segalanya. Kita perlu patokan. Kita perlu arah yang membuat kita sampai ke tujuan. Arah yang tidak mungkin diri kita sendiri yang menentukan. Kita hanya setitik debu di alam semesta. Bagaimana caranya tahu bahwa arah kita sudah benar, kecuali berpatok pada aturan Tuhan? Aturan Tuhan juga tidak mungkin datang sendirinya pada kita. Kita harus pandai membaca, mengingat, membaca lagi, mengingat lagi. Mutiara-...