Skip to main content

Posts

Pindah

Selama hidup dalam tahun-tahun yang diberikan Allah, berapa kali sih kamu merasakan 'pindah'? Bukan cuma dalam artian tempat ya, tapi alih status atau alih keadaan. Misalnya nih, berpindah dari dunia taman kanak-kanak ke dunia sekolah dasar yang mulai bar-bar. Pindah dari dunia unyu-unyu putih hitam ke dunia asrama pesantren yang jauh dari keluarga. Pindah dari keseruan anak sekolah pada keseriusan mahasiswa.  Awal tahun ini, aku kembali 'dipindahkan' Allah ke dunia yang baru. Aku beralih status dari pegawai swasta ke pegawai negeri. Tempatku bekerja bukan lagi gedung di belakang mesjid dan mini market, bukan pula tempat yang bisa ditempuh dalam hitungan belas-menit dari rumah. Tempat kerjaku sekarang berada di kaki gunung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari rumah, melalui jalan berkelak-kelok yang ramai lalu berangsur sepi, menembus hutan yang dingin, menyusuri tepi lembah dengan langit biru nan cerah. Di sini aku berada,...

Seburuk Itu Barangkali

 Kadang aku ingin membelah diri lalu menilai diriku sendiri sebagai orang lain. Nah loh, bingung nggak? Jika tidak, mungkin kita satu spesies.  Aku ingin tahu separah apa kemampuan sosialku. Aku seorang introvert yang bahkan malas mengumumkan pada dunia bahwa aku introvert. Sejak dulu aku merasa terus berjuang untuk menjadi "manusia" si makhluk sosial. Dari mulai mengamati bagaimana seseorang punya teman dekat, lalu bereksperimen untuk mendapatkan teman dekat, sampai punya teman dekat sungguhan tanpa direncanakan di awal. Parah. Aku ingat seorang teman sekelas pernah bertanya pada sahabatku. Ko kamu bisa deket sama dia sih? Kesannya sahabatku masuk ke sebuah lingkungan eksklusif yang sulit dijangkau. Ini nggak ada hubungannya sama kasta elit atau enggak, yang jelas, sampai usia kuliah pun aku masih meninggalkan kesan "mengisolasi diri".  Aku terlalu malas untuk menanyakan pada orang lain tentang orang seperti apa aku ini. Malas dan tak nyaman sebenarnya. Haruskan se...

Janji

Manusia memang tempatnya lemah dan masalah. Tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang tidak punya kedua hal itu. Maka, cara terbaik adalah menerimanya. Menerima bahwa kita memang bisa lemah dan kita memang akan selalu mendapat masalah entah kecil atau besar. Dengan menerima, kita sudah separuh jalan menuju kemenangan. Menang dari siapa? Menang dari ego yang dibisiki setan. Manusia sudah ditemani makhluk laknat itu sejak ia lahir ke dunia. Tugasnya menyesatkan langkah. Sudahlah lemah, manusia itu digoda pula. Tak ada jalan lain kecuali berhati-hati. Jangan dekat-dekat dengan perilaku atau tempat berkumpulnya para setan. Kita makhluk yang dibekali akal dan disebut Allah merupakan makhluk dengan bentuk sebaik-baiknya. Manusia punya potensi untuk menang melawan makhluk gaib itu.  Setelah menerima keadaan dengan hati lapang dada, bergeraklah menuju solusi. Jangan diam saja. Allah menyediakan bumi seisinya yang amat luas. Hijrah! Pindahlah dari perilaku atau keadaan yang membuatmu me...

Romansaku Hari Ini

Berita kehilangan datang silih berganti seperti gulungan ombak yang tak jemu menyapa bibir pantai. Tidak ada romasa di bulan Juni hingga Juli tahun ini. Semua orang menggantungkan baju hitam di dekatnya dan selalu bersiaga untuk yang terburuk. Ribuan kelopak bunga terhambur di atas gundukan tanah ini dan itu, di sana dan di sini.  Kematian memang tak pernah terduga, terutama belakangan ini. Adakah yang lebih menyayat hati daripada perpisahan yang mendadak. Menduga bahwa orang tercinta masih akan ada dalam jamuan berbuka pada Ramadhan tahun depan. Orang-orang yang menonton tak bisa tak ikut larut, semua merasa itu seperti kisahnya. Di antara banyak kekhawatiran ini, kami semua menjalani hari, sekuat mungkin, sebiasa mungkin.  Aku menyimpan sejenak berita-berita duka itu. Menaruhnya dalam akuarium kaca setengah bundar dengan kualitas nomor satu. Tentu di dalamnya, terlebih dahulu kuhamparkan kain beludru hitam dan lembut agar tidak membuat goresan pada berita duka.  Lalu, k...

Menghadapi Diri

 Ada kalanya manusia sulit untuk menghadapi perasaannya sendiri. Seperti rasa kecewa, malu, sakit hati, takut, atau barangkali kesedihan yang mendalam. Pokoknya semua perasaan yang gak enak itu seperti masuk dulu ke saringan dan bisa ditolak kalau kita mau. Contohnya seperti saat melihat gambar korban tabrakan yang berlumuran darah dengan bentuk tubuh yang tak lagi utuh, kita langsung memejamkan mata dan memilih untuk menutup gambar tersebut.  Penolakan seperti itu adalah bentuk pertahanan sederhana diri kita. Tanpa disadari, seorang individu itu beneran kompleks banget loh. Satu jiwa dan raga, tapi sebenarnya banyak divisi dalam diri kita yang masing-masing punya peranan khusus. Ada "si selalu tegar", ada "si rapuh", ada "si perfeksionis", ada "si pendendam", ada "si logis" dan lain sebagainya. Namun semua yang dikerjakan oleh divisi-divisi itu, selalu mengarah pada satu tujuan: untuk melindungi diri.  Sejak dulu aku selalu mengkhayal ...

Kabar Kematianku

Suatu hari, kamu akan membaca sebuah pengumuman tentang kepergianku melalui pesan whatsapp. Entah siapa yang pertama kali menyebarkannya, yang jelas saat itu kabar telah sampai di berbagai grup. Beberapa menit berselang ucapan istirj'a  datang silih berganti disertai do'a-doa seperti biasa: semoga amal diterima dan semoga keluarga kuat. Tentu saja saat itu tubuh kaku dan dinginku sudah tidak bisa ikut berkomentar atau sekedar mengaminkan do'a dari kalian. Saat itu aku mungkin baru selesai dimandikan dan hendak dibungkus dengan kain kafan.  Kamu mungkin lupa siapa aku. Atau mungkin kamu ingat-ingat lupa. Lalu membuka profil whatsappku, nihil, hanya ada gambar langit di sana. Lalu kamu mencoba menchat teman terdekat dan menanyakan siapa yang baru saja dikabarkan meninggal. Temanmu juga lupa tapi menyuruhmu mencari akun medsosnya. Kamu pun meluncur ke instargam, mencari di antara teman-temanmu namun tidak ada. Lalu kamu kembali ke pencarian, ah, namaku juga terlalu umum. Namun...

Dear, June

Mulai tahun ini aku menetapkan sebuah program baru untuk diriku sendiri. Namanya Muhasabah Akhir Bulan. Nama itu sebenarnya kupikirkan saat mengetik. Sebelumnya nggak pake nama, tapi intinya begitulah. Hari untuk mengevaluasi kegiatanku selama satu bulan. Waktunya yaitu di akhir bulan seperti hari ini.  Bulan Juni 2021 mungkin akan terkenang lama dalam pikiranku. Sebagaimana aku mengingat momentum pada Agustus 2019, November 2020 dan Maret 2021. Bulan ini sungguh luar biasa, aku diajari untuk lebih banyak bersyukur dan mengurangi keluhan. Aku juga diajari bahwa manusia benar-benar makhluk lemah tak berdaya, karenanya harus senantiasa berdo'a. Jangan sampai menjadi sombong karena lupa berdo'a. Kejadian demi kejadian berlalu seperti permainan ombak banyu. Sesaat di atas, sesaat berikutnya terkempas ke bawah dengan cara mengejutkan. Pada setiap kejadian, aku tidak memegang kendali sedikitpun. Sambil menahan rasa takut, kesedihan, kekhawatiran terus bergerak menjalani waktu. Manusi...

Tempat yang Baik untuk Patah Hati

    Ada hari di mana kita ditakdirkan untuk patah hati. Nilai yang buruk. Ucapan sok tahu. Atasan menyebalkan. Ban bocor. Tak bawa payung. Disalahpahami. Kerjaan menumpuk. Cemburu. Tak cukup tidur. Uang menipis. Macet. Dibohongi. Deadline tugas yang mendekat. Dikhianati. Kena marah. Tertipu. Definisi patah hatiku adalah apa-apa yang membuat hati kita menjadi tidak senang, bahkan lebih parah lagi dari sekedar tidak senang. Apakah frasa patah hati terlalu berlebihan? Hm, karena ini blogku, suka-suka lah ya.  Saat kondisi itu datang, seluruh hari terasa buruk. Mungkin ingin menangis, atau bahkan sudah menangis. Ucapan apapun yang datang padamu untuk menghibur terasa tidak berguna. Menonton film atau mendengarkan lagu favorit tidak membuatmu lebih baik. Kejadian itu terus berulang di kepalamu betapapun kamu ingin menyingkirkannya. Tidur juga tidak menolong. Toh sesaat setelah terbangun, kamu ingat lagi dan merasa lebih buruk dari sebelumnya. Kamu melangkahkan kaki dengan gama...

Cinta dan Kekuatan

Pernah nggak kamu tertidur di sore hari dan merasa nggak punya alasan untuk segera bangun dan mengerjakan sesuatu? Aku menanyakannya karena pernah.  Sebenarnya apa sih yang bisa menggerakan seseorang untuk bangun dan melakukan sesuatu dengan bersemangat?  Masih dalam rebahan soreku, aku menjawab pertanyaan itu sendiri. Mungkin cinta. Ya, orang-orang bergerak dengan semangat ke tempat dengan kekuatan cinta untuk keluarganya. Untuk ayah, ibu, adik, kakak, suami, istri, atau anak-anak tercinta. Manusia cenderung punya kekuatan lebih banyak saat mengerjakan sesuatu untuk orang lain. Kamu sependapat nggak? Jadi balik lagi ke rebahan soreku. Kenapa aku tidak segera bangun dan menyalakan laptopku? Padahal sudah jam 4 sore dan itu waktunya untuk berlatih menulis. Aku menduga, jangan-jangan karena aku tidak cukup mampu untuk mencintai.  Aneh? Kamu harus tahu ya, di dunia ini gak semua orang bisa mencintai sesuatu dengan mudah. Entah itu pekerjaan, benda, ataupun manusia lainnya. A...

Tentang Rasa Lelah

Jadi begini, aku... hm... hei, aku... lelah. Ya, sama seperti rasa lelahmu, aku juga mengalami itu. Semua orang kelahan dan mencari cara masing-masing untuk mengatasinya. Bagiku, menulis mungkin satu dari sekian banyak cara agar aku tetap waras dalam keadaan lelah begini. Aku berpikir bahwa mengeluh tentang rasa lelah itu tidak baik. Jadi aku tidak melakukannya. Aku memarahi diriku sendiri agar bersikap kuat. Ada orang yang harus kubantu. Bagaimana bisa aku kelelahan. Seminggu terakhir adalah hari-hari yang bukan hanya melelahkan secara fisik, namun juga secara psikis. Aku harap bisa beristirahat penuh ketika kembali ke kamarku. Namun, manusia hanya mampu berencana, Allah yang menentukan. Rupanya aku masih belum boleh beristirahat. Keluargaku sakit dan aku merasa bertanggung jawab untuk bersiaga menyediakan apapun, melakukan apapun yang dibutuhkan. Aku sadar ini ujian, mengeluh bukan jawaban. Maka aku memutuskan untuk berdiri bersama rasa lelah itu, berjalan beriringan, berbicara dan b...