Skip to main content

Posts

Peduli

Hidupku ya hidupku. Hidupmu ya hidupmu. Hidup dia ya hidup dia. Daaaan seterusnya sampai semua subjek di muka bumi ini musnah.  "Ga apa-apa mereka terjerumus, yang penting aku baik" "Mereka memilih jadi begitu kan pilihan, ya hormati aja, bukan urusan kita" "Setiap orang punya pemikiran dan selera yang berbeda, kita nggak berhak nge-judge" daaaaaaaaan kalimat-kalimat bernada sejenis lainnya sampai semua kata di KBBI habis terpakai. Pernah mengomentari perilaku orang lain dengan kalimat seperti itu? Dari yang lugas sampai yang diperhalus, semua sebenarnya mengandung nilai yang sama: KETIDAKPEDULIAN. Mungkin nggak ketika ada seorang anak nyoba minum minuman keras, terus ibunya bilang "nggak apa-apa lah itu pilihan dia, yang penting saya jadi ibu yang baik" Jawabannya hampir nggak mungkin. Kenapa? Karena setiap ibu di muka bumi ini mencintai anaknya.  Contoh lain, mungkin nggak ketika ada siswa yang tawuran, gurunya cuma komen "Setiap anak itu ...

Mendewasa

Pernah nggak ada momen di mana kamu terharu karena teman, saudara atau keluargamu melakukan sesuatu yang berarti buatmu? Kalau ini : pernah nggak kamu merasa gitu ke Allah swt? Manusia seringkali sibuk sendiri, seringkali sok tahu, seringkali salah sangka. Sampai akhirnya ada kejadian yang membuat kamu tersadar bahwa prasangka kamu selama ini salah. Kamu tidak ditinggalkan sendiri dan jalan berbatu yang baru saja kamu lalui, itu adalah hal yang baik buat kamu.  Ujung dari perjalanan ini adalah apa yang kamu inginkan. Memang prosesnya tidak seindah dugaanmu. Tapi apa lah pentingnya dugaan itu, salah sendiri kenapa sok tahu. Sekarang kamu sadar dan kamu mulai mensyukuri semua yang terjadi.  Aku baru sadar ya Allah, Engkau baik banget sama hambamu ini T T Lalu kamu ambil wudhu dan mengerjakan shalat sunnah dua roka'at. Setelah selesai, kamu berdo'a dengan lintasan kejadian-kejadian selama dua tahun terakhir memenuhi kepala. Kamu minta maaf dengan bercucuran air mata, kamu merasa ...

Mencari-cari Sumbu

Dulu, menulis cerita diam-diam dalam buku tulis merk Mirage menjadi kesenangan tersendiri buatku. Setiap kali memiliki waktu luang, aku akan mengambil pulpen dan kembali meneruskan cerita yang kubuat. Padahal dulu jika dipikir-pikir aku harus rela mengorbankan waktu istirahatku di sela waktu belajar, kegiatan di asrama dan kegiatan di organisasi. Semangat untuk meneruskan cerita, menambah konflik-konflik baru, riset latar tempat lewat ensiklopedia di perpustakaan, semuanya terasa berharga sekali sekarang. Waktu luang ada, kemudahan mencari informasi punya, platform menulis mudah sekali menjangkaunya. Namun sumbu semangat itu terselip di antara kenangan-kenangan manis, tak kutemukan juga sampai hari ini. Menulis menjadi cita-cita yang ingin kulakukan, bukan lagi hobi yang senantiasa meletupkan kegembiraan buatku.  Bagaimana denganmu? Ada sumbu yang hilang seperti itu? Dulu kamu sangat menikmatinya tanpa beban apapun, bahkan pekerjaan itu yang menyumbangkan suntikan semangat pada har...

Tahu Diri

Malam ini hujan tidak turun, namun suhu dingin tetap datang menyelusup dari celah bawah pintu dan ventilasi. Rasanya ingin tetap terlentang berbalut selimut hangat. Namun aku tahu diri, kemewahan itu belum boleh kudapatkan. Catatan kecil yang ditulis menggunakan spidol berbaris rapi dalam sticky note berwarna hijau. Mataku yang masih berat untuk dibuka membacanya satu persatu. Hari ini belum kucoret satupun tugas-tugas kecil itu. Tak ada pilihan kecuali bangun, membasuh wajah dengan air dingin dan kembali ke depan laptop. Bagian dalam diriku gemar sekali menawar: "ayolah, jangan terlalu memaksakan diri. Teman-temanmu sudah tidur jam segini, mereka juga akan menyelesaikan tugas mereka tanpa memakai list tugas yang dicoret-coret begitu!" ia memintaku untuk kembali beristirahat, santai sambil membuka-buka ponsel.  Namun sisi keras kepalaku akan menang, seperti biasa. Rasanya hal-hal baik yang datang pada diriku tidak terlepas dari sikap ini: keras pada diri sendiri. Aku paling t...

Pindah

Selama hidup dalam tahun-tahun yang diberikan Allah, berapa kali sih kamu merasakan 'pindah'? Bukan cuma dalam artian tempat ya, tapi alih status atau alih keadaan. Misalnya nih, berpindah dari dunia taman kanak-kanak ke dunia sekolah dasar yang mulai bar-bar. Pindah dari dunia unyu-unyu putih hitam ke dunia asrama pesantren yang jauh dari keluarga. Pindah dari keseruan anak sekolah pada keseriusan mahasiswa.  Awal tahun ini, aku kembali 'dipindahkan' Allah ke dunia yang baru. Aku beralih status dari pegawai swasta ke pegawai negeri. Tempatku bekerja bukan lagi gedung di belakang mesjid dan mini market, bukan pula tempat yang bisa ditempuh dalam hitungan belas-menit dari rumah. Tempat kerjaku sekarang berada di kaki gunung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari rumah, melalui jalan berkelak-kelok yang ramai lalu berangsur sepi, menembus hutan yang dingin, menyusuri tepi lembah dengan langit biru nan cerah. Di sini aku berada,...

Seburuk Itu Barangkali

 Kadang aku ingin membelah diri lalu menilai diriku sendiri sebagai orang lain. Nah loh, bingung nggak? Jika tidak, mungkin kita satu spesies.  Aku ingin tahu separah apa kemampuan sosialku. Aku seorang introvert yang bahkan malas mengumumkan pada dunia bahwa aku introvert. Sejak dulu aku merasa terus berjuang untuk menjadi "manusia" si makhluk sosial. Dari mulai mengamati bagaimana seseorang punya teman dekat, lalu bereksperimen untuk mendapatkan teman dekat, sampai punya teman dekat sungguhan tanpa direncanakan di awal. Parah. Aku ingat seorang teman sekelas pernah bertanya pada sahabatku. Ko kamu bisa deket sama dia sih? Kesannya sahabatku masuk ke sebuah lingkungan eksklusif yang sulit dijangkau. Ini nggak ada hubungannya sama kasta elit atau enggak, yang jelas, sampai usia kuliah pun aku masih meninggalkan kesan "mengisolasi diri".  Aku terlalu malas untuk menanyakan pada orang lain tentang orang seperti apa aku ini. Malas dan tak nyaman sebenarnya. Haruskan se...

Janji

Manusia memang tempatnya lemah dan masalah. Tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang tidak punya kedua hal itu. Maka, cara terbaik adalah menerimanya. Menerima bahwa kita memang bisa lemah dan kita memang akan selalu mendapat masalah entah kecil atau besar. Dengan menerima, kita sudah separuh jalan menuju kemenangan. Menang dari siapa? Menang dari ego yang dibisiki setan. Manusia sudah ditemani makhluk laknat itu sejak ia lahir ke dunia. Tugasnya menyesatkan langkah. Sudahlah lemah, manusia itu digoda pula. Tak ada jalan lain kecuali berhati-hati. Jangan dekat-dekat dengan perilaku atau tempat berkumpulnya para setan. Kita makhluk yang dibekali akal dan disebut Allah merupakan makhluk dengan bentuk sebaik-baiknya. Manusia punya potensi untuk menang melawan makhluk gaib itu.  Setelah menerima keadaan dengan hati lapang dada, bergeraklah menuju solusi. Jangan diam saja. Allah menyediakan bumi seisinya yang amat luas. Hijrah! Pindahlah dari perilaku atau keadaan yang membuatmu me...

Romansaku Hari Ini

Berita kehilangan datang silih berganti seperti gulungan ombak yang tak jemu menyapa bibir pantai. Tidak ada romasa di bulan Juni hingga Juli tahun ini. Semua orang menggantungkan baju hitam di dekatnya dan selalu bersiaga untuk yang terburuk. Ribuan kelopak bunga terhambur di atas gundukan tanah ini dan itu, di sana dan di sini.  Kematian memang tak pernah terduga, terutama belakangan ini. Adakah yang lebih menyayat hati daripada perpisahan yang mendadak. Menduga bahwa orang tercinta masih akan ada dalam jamuan berbuka pada Ramadhan tahun depan. Orang-orang yang menonton tak bisa tak ikut larut, semua merasa itu seperti kisahnya. Di antara banyak kekhawatiran ini, kami semua menjalani hari, sekuat mungkin, sebiasa mungkin.  Aku menyimpan sejenak berita-berita duka itu. Menaruhnya dalam akuarium kaca setengah bundar dengan kualitas nomor satu. Tentu di dalamnya, terlebih dahulu kuhamparkan kain beludru hitam dan lembut agar tidak membuat goresan pada berita duka.  Lalu, k...

Menghadapi Diri

 Ada kalanya manusia sulit untuk menghadapi perasaannya sendiri. Seperti rasa kecewa, malu, sakit hati, takut, atau barangkali kesedihan yang mendalam. Pokoknya semua perasaan yang gak enak itu seperti masuk dulu ke saringan dan bisa ditolak kalau kita mau. Contohnya seperti saat melihat gambar korban tabrakan yang berlumuran darah dengan bentuk tubuh yang tak lagi utuh, kita langsung memejamkan mata dan memilih untuk menutup gambar tersebut.  Penolakan seperti itu adalah bentuk pertahanan sederhana diri kita. Tanpa disadari, seorang individu itu beneran kompleks banget loh. Satu jiwa dan raga, tapi sebenarnya banyak divisi dalam diri kita yang masing-masing punya peranan khusus. Ada "si selalu tegar", ada "si rapuh", ada "si perfeksionis", ada "si pendendam", ada "si logis" dan lain sebagainya. Namun semua yang dikerjakan oleh divisi-divisi itu, selalu mengarah pada satu tujuan: untuk melindungi diri.  Sejak dulu aku selalu mengkhayal ...

Kabar Kematianku

Suatu hari, kamu akan membaca sebuah pengumuman tentang kepergianku melalui pesan whatsapp. Entah siapa yang pertama kali menyebarkannya, yang jelas saat itu kabar telah sampai di berbagai grup. Beberapa menit berselang ucapan istirj'a  datang silih berganti disertai do'a-doa seperti biasa: semoga amal diterima dan semoga keluarga kuat. Tentu saja saat itu tubuh kaku dan dinginku sudah tidak bisa ikut berkomentar atau sekedar mengaminkan do'a dari kalian. Saat itu aku mungkin baru selesai dimandikan dan hendak dibungkus dengan kain kafan.  Kamu mungkin lupa siapa aku. Atau mungkin kamu ingat-ingat lupa. Lalu membuka profil whatsappku, nihil, hanya ada gambar langit di sana. Lalu kamu mencoba menchat teman terdekat dan menanyakan siapa yang baru saja dikabarkan meninggal. Temanmu juga lupa tapi menyuruhmu mencari akun medsosnya. Kamu pun meluncur ke instargam, mencari di antara teman-temanmu namun tidak ada. Lalu kamu kembali ke pencarian, ah, namaku juga terlalu umum. Namun...