Skip to main content

Posts

Kamu dan Sepotong Es Krim Siang Itu

Ketika merasa lelah atau merasa sudah "mencapai batasmu", kamu tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Bukan tidak ingin sebenarnya, tapi tidak saja. Sudah terlalu terbiasa barangkali, lagipula, harus cerita pada siapa? Kamu selalu merasa orang itu harus "perlu" kamu ajak bicara. Tidak bisa sembarangan. Karena itu, semakin sulit bagimu untuk bercerita. Pagi itu, perjalanan lebih dari tiga puluh kilo meter yang ditempuh menggunakan sepeda motor, cukup membuat kewalahan. Agenda di hari sebelumnya membuat energi cukup terkuras, ditambah suasana hati yang tidak kondusif. Kamu lelah, ingin sekali merebahkan tubuh dan beristirahat seharian. Tapi apakah bisa? Tentu tidak. Hari ini pertama masuk kerja kembali setelah akhir pekan. Meski berat, kamu tetap bekerja. Resiko manusia dewasa memang begitu. Siang harinya kamu masih harus mengerjakan tugas tambahan. Kantor mulai kosong karena jam kerja sudah usai. Kelelahanmu semakin memuncak. Jika ada orang asing di sebelahmu yang k...

Lagu Patah Hati

Coba searching di Youtube lagu-lagu ini: - I don't Love You dari Urban Zakapa - The End dari Kwon Jin Ah - Like It dari Yoon Jong Shin - And The End dari Jung Seung Hwan - If It was You dari Jung Seung Hwan Itu sebagian dari playlist "Patah Hati" yang sering kudengarkan ketika sedang butuh dongkrakan mood. Ha? Ga salah? Dalam keadaan tertentu, aku lebih terhibur dengan mendengarkan lagu sedih. Bukan sekedang melodinya yang mendayu dan menyayat, tapi karena aku paham lirik lagunya tentang apa. Kebanyakan ya itu dia, tentang patah hati. Bukan patah hati biasa, tapi patah hati yang sebegitu menyedihkannya. Aku belum pernah dan semoga tidak akan pernah mengalami perasaan asli seperti itu. Tapi anehnya ketika mendengar, ada sensasi perasaan pedih yang menyenangkan (sampai sini, aku takut dikira psikopat >_<) . Begini begini, maksudku ada sensasi perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dan aku merasa itu mempengaruhiku. Aku jadi sedih dalam hitungan detik ketika m...

Kosong

Semuanya terlihat putih tak bernoda di depan sana. Kamu menahan langkah ragu, tak tahu arah. Kepalamu mulai berisik menganalisis. Apa yang sedang terjadi di depan sana? Mengapa kamu tidak bisa melihat apapun? Sebentar, apa yang salah? Jalan di depan sana, matamu, atau otakmu? Kakimu semakin enggan melangkah. Kekosongan itu menyedotmu ke dalam pusaran tak dikenal. Pusaran yang membuatmu tidak senang tapi juga tidak sedih. Tidak bersemangat tapi tidak malas juga. Baik tubuh maupun pikiranmu tertahan di awang-awang dengan latar belakang serba putih.  Baru terpikir bahwa kekosongan lebih mengerikkan daripada yang kamu pikirkan selama ini. Kamu rindu garis-garis rumit menyerupai benang kusut yang selalu membuatmu menyeret kaki sepulang kerja. Kamu juga merindukan coretan abstrak pada catatan kuliah saat obrolan dosen menjadi super membosankan. Kamu rindu segala hal yang tidak kosong meskipun itu keluhan, cacian, tangisan bahkan kutukan. Kamu harus keluar dari kekosongan ini untuk segera...

Salah ya Salah

Punya idealisme, tak berarti seseorang akan hidup keren dan selamanya berjalan di atas kebenaran. Kadang idealisme hanya menjadi pajangan prestasi yang pernah dicapai di masa lalu, berkilau dan membanggakan, sayangnya kini tak berarti apa-apa. Bahkan, idealisme bisa menjadi kebenaran yang menyiksa karena kita tahu apa yang harusnya dilakukan, tapi tak mampu melakukannya. Apa misal? Melawan pungutan liar yang dilakukan oleh 'atasan' yang menyebalkannya harus diberi label 'oknum'. Sebal karena sebutan itu terlalu halus, lebih asik jika dipanggil 'atasan korup'. Hahaha. Benar, aku terlibat dalam pusaran itu. Ada pihak-pihak yang dengan cara licik, menyuruh kami untuk membayar sejumlah uang karena uang kekurangan gaji kami sudah cair. Mereka kira, cairnya uang itu atas jasa mereka. Ckk. Kenapa aku bilang licik? Karena mereka memakai narasi 'sok' terhormat dengan kalimat: Silahkan memberi uang partisipasi sukarela. Begitulah kurang lebih. Benar, tentu saja me...

Peduli

Hidupku ya hidupku. Hidupmu ya hidupmu. Hidup dia ya hidup dia. Daaaan seterusnya sampai semua subjek di muka bumi ini musnah.  "Ga apa-apa mereka terjerumus, yang penting aku baik" "Mereka memilih jadi begitu kan pilihan, ya hormati aja, bukan urusan kita" "Setiap orang punya pemikiran dan selera yang berbeda, kita nggak berhak nge-judge" daaaaaaaaan kalimat-kalimat bernada sejenis lainnya sampai semua kata di KBBI habis terpakai. Pernah mengomentari perilaku orang lain dengan kalimat seperti itu? Dari yang lugas sampai yang diperhalus, semua sebenarnya mengandung nilai yang sama: KETIDAKPEDULIAN. Mungkin nggak ketika ada seorang anak nyoba minum minuman keras, terus ibunya bilang "nggak apa-apa lah itu pilihan dia, yang penting saya jadi ibu yang baik" Jawabannya hampir nggak mungkin. Kenapa? Karena setiap ibu di muka bumi ini mencintai anaknya.  Contoh lain, mungkin nggak ketika ada siswa yang tawuran, gurunya cuma komen "Setiap anak itu ...

Mendewasa

Pernah nggak ada momen di mana kamu terharu karena teman, saudara atau keluargamu melakukan sesuatu yang berarti buatmu? Kalau ini : pernah nggak kamu merasa gitu ke Allah swt? Manusia seringkali sibuk sendiri, seringkali sok tahu, seringkali salah sangka. Sampai akhirnya ada kejadian yang membuat kamu tersadar bahwa prasangka kamu selama ini salah. Kamu tidak ditinggalkan sendiri dan jalan berbatu yang baru saja kamu lalui, itu adalah hal yang baik buat kamu.  Ujung dari perjalanan ini adalah apa yang kamu inginkan. Memang prosesnya tidak seindah dugaanmu. Tapi apa lah pentingnya dugaan itu, salah sendiri kenapa sok tahu. Sekarang kamu sadar dan kamu mulai mensyukuri semua yang terjadi.  Aku baru sadar ya Allah, Engkau baik banget sama hambamu ini T T Lalu kamu ambil wudhu dan mengerjakan shalat sunnah dua roka'at. Setelah selesai, kamu berdo'a dengan lintasan kejadian-kejadian selama dua tahun terakhir memenuhi kepala. Kamu minta maaf dengan bercucuran air mata, kamu merasa ...

Mencari-cari Sumbu

Dulu, menulis cerita diam-diam dalam buku tulis merk Mirage menjadi kesenangan tersendiri buatku. Setiap kali memiliki waktu luang, aku akan mengambil pulpen dan kembali meneruskan cerita yang kubuat. Padahal dulu jika dipikir-pikir aku harus rela mengorbankan waktu istirahatku di sela waktu belajar, kegiatan di asrama dan kegiatan di organisasi. Semangat untuk meneruskan cerita, menambah konflik-konflik baru, riset latar tempat lewat ensiklopedia di perpustakaan, semuanya terasa berharga sekali sekarang. Waktu luang ada, kemudahan mencari informasi punya, platform menulis mudah sekali menjangkaunya. Namun sumbu semangat itu terselip di antara kenangan-kenangan manis, tak kutemukan juga sampai hari ini. Menulis menjadi cita-cita yang ingin kulakukan, bukan lagi hobi yang senantiasa meletupkan kegembiraan buatku.  Bagaimana denganmu? Ada sumbu yang hilang seperti itu? Dulu kamu sangat menikmatinya tanpa beban apapun, bahkan pekerjaan itu yang menyumbangkan suntikan semangat pada har...

Tahu Diri

Malam ini hujan tidak turun, namun suhu dingin tetap datang menyelusup dari celah bawah pintu dan ventilasi. Rasanya ingin tetap terlentang berbalut selimut hangat. Namun aku tahu diri, kemewahan itu belum boleh kudapatkan. Catatan kecil yang ditulis menggunakan spidol berbaris rapi dalam sticky note berwarna hijau. Mataku yang masih berat untuk dibuka membacanya satu persatu. Hari ini belum kucoret satupun tugas-tugas kecil itu. Tak ada pilihan kecuali bangun, membasuh wajah dengan air dingin dan kembali ke depan laptop. Bagian dalam diriku gemar sekali menawar: "ayolah, jangan terlalu memaksakan diri. Teman-temanmu sudah tidur jam segini, mereka juga akan menyelesaikan tugas mereka tanpa memakai list tugas yang dicoret-coret begitu!" ia memintaku untuk kembali beristirahat, santai sambil membuka-buka ponsel.  Namun sisi keras kepalaku akan menang, seperti biasa. Rasanya hal-hal baik yang datang pada diriku tidak terlepas dari sikap ini: keras pada diri sendiri. Aku paling t...

Pindah

Selama hidup dalam tahun-tahun yang diberikan Allah, berapa kali sih kamu merasakan 'pindah'? Bukan cuma dalam artian tempat ya, tapi alih status atau alih keadaan. Misalnya nih, berpindah dari dunia taman kanak-kanak ke dunia sekolah dasar yang mulai bar-bar. Pindah dari dunia unyu-unyu putih hitam ke dunia asrama pesantren yang jauh dari keluarga. Pindah dari keseruan anak sekolah pada keseriusan mahasiswa.  Awal tahun ini, aku kembali 'dipindahkan' Allah ke dunia yang baru. Aku beralih status dari pegawai swasta ke pegawai negeri. Tempatku bekerja bukan lagi gedung di belakang mesjid dan mini market, bukan pula tempat yang bisa ditempuh dalam hitungan belas-menit dari rumah. Tempat kerjaku sekarang berada di kaki gunung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari rumah, melalui jalan berkelak-kelok yang ramai lalu berangsur sepi, menembus hutan yang dingin, menyusuri tepi lembah dengan langit biru nan cerah. Di sini aku berada,...

Seburuk Itu Barangkali

 Kadang aku ingin membelah diri lalu menilai diriku sendiri sebagai orang lain. Nah loh, bingung nggak? Jika tidak, mungkin kita satu spesies.  Aku ingin tahu separah apa kemampuan sosialku. Aku seorang introvert yang bahkan malas mengumumkan pada dunia bahwa aku introvert. Sejak dulu aku merasa terus berjuang untuk menjadi "manusia" si makhluk sosial. Dari mulai mengamati bagaimana seseorang punya teman dekat, lalu bereksperimen untuk mendapatkan teman dekat, sampai punya teman dekat sungguhan tanpa direncanakan di awal. Parah. Aku ingat seorang teman sekelas pernah bertanya pada sahabatku. Ko kamu bisa deket sama dia sih? Kesannya sahabatku masuk ke sebuah lingkungan eksklusif yang sulit dijangkau. Ini nggak ada hubungannya sama kasta elit atau enggak, yang jelas, sampai usia kuliah pun aku masih meninggalkan kesan "mengisolasi diri".  Aku terlalu malas untuk menanyakan pada orang lain tentang orang seperti apa aku ini. Malas dan tak nyaman sebenarnya. Haruskan se...