Monday, November 14, 2016

Eternal Red Light

postingan pertama

Menulis adalah sebuah kebiasaan yang kuusahakan sejak kecil, awalnya hanya untuk bersenang-senang, namun setelah dewasa aku sadar bahwa menulis itu kebutuhan. Untuk mendapatkan sebuah kualitas tulisan yang baik, latihan adalah cara mutlak untuk meraihnya. Banyak baca pun, jika tidak latihan percuma saja. Blog ini mendorongku untuk banyak berlatih menulis.

Lewat blog ini pula banyak hal yang aku pelajari kemudian aku tulis, atau menulis dulu baru ada yang bisa kupelajari. Tujuan dari blog ini juga terus berubah seiring berjalannya waktu, dari mulai untuk kegiatan organisasi waktu sekolah, lalu ganti lagi menjadi blog yang ingin menyediakan informasi seperti majalah, lalu berkembang lagi jadi blog pribadi yang isinya hanya berisi hal-hal yang pernah aku lakukan atau aku alami. Intinya, blog ini termasuk kategori blog gado-gado, campuran, atau gaje(las) ^ ^.

Tanpa terasa usia blog ini sudah hampir mencapai usia 6 tahun. Postingan pertama terbit pada tanggal 31 Desember 2010, judulnya ‘Assalamu’alaikum’. Jika kembali lagi pada postingan-postingan yang lalu, aku menyadari bahwa gaya menulis sangat mencerminkan usia perkembangan penulisnya. Blog ini menyimpan gaya menulisku dari waktu ke waktu, dan terlalu berharga untuk dibuang. Namun juga tidak bisa kulanjutkan lebih lama. Saatnya berpindah ke media baru dengan tujuan yang lebih jelas ^ ^

Aku masih belum merasa menjadi seorang blogger, tapi manner seorang blogger yang baik ingin aku tiru. Karena ada postingan pembuka, maka ada postingan penutup. Dan inilah akhirnya. Lampu merah abadi bernama hiatus. Terimakasih yang masih suka ngintip-ngintip blog gaje ini, semoga mendapat ‘sesuatu’ dari kegajean isi blog ini.

Selamat tinggal.

Sampai jumpa lagi. Di dunia yang baru.

Tuesday, November 8, 2016

Pengagum Kopi

source: lihat.co.id


Jika para saintis atau novelis tergila gila pada gagasan alkemis yang katanya bisa membuat seseorang hidup abadi, orang bodoh tidak melakukannya. Ia lebih tertarik pada secangkir kopi yang bisa membuat dirinya bahagia dalam hitungan menit, tidak perlu hidup lama-lama.

Buatnya, cairan hitam pekat, terkadang cokelat itu lebih manjur daripada obat manapun di dunia. Cairan ini ajaib, ia seperti tanah mati yang tak ada harganya, namun ketika dihujani air mendidih, pesonanya menggeliat bangkit. Ia menguasai udara, sampai ke celah terkecil di rongga paru-parunya. Mengobati luka sepanjang hari.

Bagaimana mungkin UNESCO tidak menjadikan kopi sebagai salahsatu keajaiban dunia? Pikir orang bodoh itu lagi.

Ia lalu menyesap cairan hangat di cangkirnya pelan-pelan, dengan mata terpejam, seolah tak ingin membagi pekerjaan indera pengecap dengan indera-indera lainnya. Rasa kopi yang baru saja singgah di lidahnya memanggil sebuah kenangan dari laci ingatan. Ia tersenyum dalam hati.

Ia tidak pernah menganggap bahagia itu sederhana. Namun kopi membuat caranya mendapat kebahagiaan menjadi sangat sederhana.

Monday, November 7, 2016

Pembuat Alasan

source: Fide Dubitandum - WordPress.com

Pernah melihat manusia pencari alasan? Ketika dibebankan sebuah tugas padanya ia akan banyak berkelit dengan 1001 pernyataan sehingga tugasnya akan menjadi lebih ringan, atau kalau bisa ia dibebastugaskan. Ketika berbuat kesalahan ia akan menyebutkan faktor alfa, beta, delta, teta, sigma, sampai semua abjad di bumi habis. Latar belakangnya sama, karena ia tidak mau tugas yang berat.

Namun katanya kehidupan ini bengis, ia tidak bisa ditaklukan hanya dengan berparagraf-paragraf kata. Alasan tidak ada gunanya, ia tak lebih seperti pisau silet yang digunakan untuk menebang pohon. Sekali lagi, tak ada gunanya! Jadi, berhentilah membuat alasan.

Dunia dan orang-orangnya tidak butuh alasan! Telan saja kata-kata itu, karena akan terdengar menjijikkan di telinga orang lain. Bukan menyelamatkanmu, tapi justru semakin menenggelamkanmu. Pernah mendengar ungkapan ini? : “alasan hanya akan memperjelas kesalahan”. Biar kutambahkan: ATAU “membentuk kesalahan baru yang tadinya tidak ada”. Karena alasan adalah kekeliruan itu sendiri.

Tentu ini tidak ada hubungannya dengan ‘alasan’ logis dalam pembuktian ilmiah. Alasan yang dimaksud di sini adalah alasan yang dibuat-buat untuk mengelak dari kesalahan, atau diucapkan untuk menyelamatkan ‘muka’ yang terlanjur malu.

Jika salah, akui. Lalu terima konsekuensinya.

Jika merasa malu, katakan. Dan terima juga konsekuensinya.

Kejujuran selalu menunjukkan pada kebaikan. Yakini itu.

Earth, Nov 2016

Sunday, October 16, 2016

Waspadai Tontonanmu!




Ini berawal dari kegiatan saya nonton drama korea, hehe. Entah kenapa, di tengah kesibukan yang padat sekalipun, sepertinya nonton menjadi refreshing tersendiri buat saya. Drama terbaru yang tengah saya tongkrongin saat ini berjudul The K2 yang diperankan oleh Ji Chang Wook dan Im Yoona, *yang senyum pasti fansnya ^^

Sore itu, pada episode ketiga saya melihat adegan di atas
 
Yang sudah nonton pasti tahu apa yang terjadi di sana. Saya kasih tahu buat yang belum atau tidak akan nonton ya, yang terjadi adalah: Ji Chang Wook sebagai Kim Je Ha yang saat itu bekerja di Iraq ternyata punya teman dekat perempuan berjilbab dan bercadar, namanya Naniya. Meski orang Iraq bahasa Korea Naniya ternyata oke punya, lancar! Ia bercakap-cakap dengan Je Ha tentang Surga sampai 2NE1. 

Adegan selanjutnya, Kim Je Ha bilang dengan berat hati bahwa ia harus kembali ke Korea dalam waktu dekat. Naniya ternyata sudah tahu dan merasa sedih. Tanpa diduga, dengan sikap yang sangat canggung, ternyata Je Ha meminta Naniya ikut dengannya ke Korea. Je Ha mengajak Naniya menikah, ia menyodorkan sebuah aksesoris sebagai ganti cincin dalam prosesi ‘tembak-menembak’ itu. 

 Lalu apa yang terjadi?

Saya juga kaget, karena Naniya menyetujui ajakan Je Ha. Bukan karena jawaban Naniya, bukan! Tapi karena setelah itu Naniya menarik kain yang menutupi kepalanya sehingga terbukalah auratnya. 
 
Ha?


Sampai di situ, saya meninju-ninju bantal dengan geram. Saya merasa ditampar oleh tangan tak terlihat, itukah potret fenomena yang terjadi saat ini?! Mudah-mudahan bukan…

Ini yang saya pikirkan: Korea sebagai pusat hiburan terkenal dari Asia yang punya banyak penggemar hampir dari seantero bumi. Rata-rata penggemarnya adalah remaja, khususnya remaja putri. Kenapa sampai disukai sedemikian besar sih? Dalam pandangan saya pribadi, karena penampilan artis-artis Korea itu elalu all out ketika menghasilkan sebuah karya, entah itu dalam bidang musik atau dalam bidang film. 

Itu penilaian yang secara objektifnya ya. Kalau ditanya pada setiap penggemar Korea, mereka mungkin punya alasan yang berbeda-beda, seperti karena si ITU ganteng, karena si INI cantik, karena suaranya bagus, karena dance-nya keren, dll. 

Tapi ada yang harus kita waspadai bersama. Kita di sini merujuk pada “saya dan kalian” yang suka menikmati hiburan negeri gingseng itu. Sesuka apapun kita pada mereka, jangan sampai menukarnya dengan ketaatan kita pada Allah. Meski perempuan-perempuan korea itu memakai rok-rok dan celana-celana yang pendek banget, kita mah cukup sampai mata kaki aja, yang penting menutup aurat dengan sempurna. Meskipun tampang mereka ganteng-ganteng dan cantik-cantik, kita nggak usah tergiur untuk operasi plastik seperti mereka. Meski lagi rame-ramenya, tolong segera beranjak kalau sudah ada panggilan shalat. 

Gitu deh. 

Itu semua kekhawatiran saya saja tentang dunia hiburan yang bisa sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Saya takut, kalau adegan di The K2 episode 3 itu adalah pernyataan ‘kemenangan’ para liberalis dalam menaklukan pemuda pemudi Islam dengan mencekoki mereka dengan banyak hiburan dan akhirnya melupakan Agama. 

Well memang sih, saya juga nggak tahu si Raniya itu berperan sebagai orang Islam atau bukan. Tapi tetap saja adegan itu mengganggu saya. Menurut saya, setiap peran dan adegan pasti munya maksud tertentu. Kenapa sampai dipilih sosok perempuan yang menggunakan kain penutup kepala dan bercadar begitu?!

Inti yang ingin saya sampaikan adalah pertanyaan: sudah waspadakah kita terhadap pemikiran atau budaya yang bisa melalaikan kita itu?! 

Refleksi saja masing-masing ya ^ ^

Tuesday, September 20, 2016

Aku Harap Malam Ini Hujan

"mengintip pagi lewat jendela"

Malam minggu. Degup romantisme kota Bandung belum juga usai meski waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 00.00. Suara kendaraan berlalu-lalang di depan kamarku berisik sekali, aku harap hujan bisa menghentikan mereka. Aku harap dingin bisa membuat gerombolan remaja itu rindu akan hangatnya di bawah atap rumah.

Ketika mataku sudah hampir terpejam, terdengar rintik suara hujan yang tengah berpesta dengan genteng bangunan. Aku tersenyum tanpa sadar, cepatlah sepi jalanan. Aku tidak suka kebisingan. Nikmat sekali rasanya mendengar suara hujan turun ke bumi sementara aku berada di dalam ruangan yang teramat teduh.

Tunggu!

Lalu bagaimana dengan para tunawisma di luar sana. Tanpa hujan pun, malam-malam yang harus mereka lalui tentu tidak mudah. Di mana mereka akan tidur kalau emper toko basah oleh invasi air hujan? Apa mereka diizinkan menginap di salahsatu ruangan kantor pemerintahan yang tidak terpakai? Ah, rasanya tidak mungkin. Kantor pembela rakyat itu kan senantiasa dikelilingi tembok dan pagar nan tinggi menjulang. Plus satpam pula. Tunawisma tidak mungkin masuk ke sana.

Aku jadi merasa bersalah karena sudah berdo’a agar hujan turun. Aku menarik kembali keinginanku yang egios itu. Biarlah jalanan berisik sampai subuh, yang penting jangan sengsarakan para tunawisma di jalanan sana dengan dinginnya air hujan.

Tak lama kemudian, hujan pun reda. Dan aku sudah tertidur pulas sepuluh menit yang lalu.

*catatan ttg malam minggu
masih dari Planet Bumi