Skip to main content

Posts

Hiu

Aku pernah merasa sangat kelabakan sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja. Ketika melihat tumpukan baju yang belum disetrika aku merasa stress. Ketika ingat ada cucian yang masih menumpuk, stress. Belum lagi keseharianku sebagai guru. Aku dikejar rasa bersalah setiap harinya. Tak jarang emosi itu menumpuk dan meluap pada suami. Hehe, maklum, dia yang paling sering kutemui di muka bumi ini sekarang. Belakangan aku menyadari kuncinya. Aku mulai memaksa diri untuk mengosongkan tempat cucian dan tempat setrikaan. Jika waktu dikontrakan aku masih punya seseorang yang membantu pekerjaanku, setelah pindah ke rumah sendiri aku harus mengerjakan semuanya sendiri. Ya, dengan kata lain aku harus bergerak menuntaskan semua kekacauan di rumahku. Tak peduli sedang lelah atau ngantuk, aku harus mengerjakannya setiap hari. Perlahan, cucian tak lagi menggunung. Baju yang harus disetrika tak lagi kentara. Aku mulai menikmati kesibukanku.  Meskipun memang lelah, tapi aku merasa tenang. Bahkan mes...

Memeras Otak

Hari jum'at, di perpustakaan daerah Sumedang. Tak seperti biasanya, kudapati pengunjung hari ini lebih banyak daripada biasanya. Ah, biasanya. Sudah lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Berbagai kesibukan yang tak masuk akal merenggut waktuku di Jum'at siang. Hari ini, Alhamdulillah aku punya kebebasan lagi untuk datang. Edisi mengantar anak didikku, Intan namanya. Pemalu luar biasa, sekaligus teguh pendirian. Dia ingin membuat kartu anggota perpustakaan. Tak hanya itu, anak-anakku yang lain juga datang. Aku senang karena tak perlu effort besar untuk menggerakkan mereka. Oke, kembali kepada tema. Memeras otak. Aku yakin sekali bahwa otakku masih berfungsi dengan baik. Hai otakku sayang, bisakah kita bekerja sama menghasilkan sebuah karya? Jangan ada alasan yang tak masuk akal itu lagi. Jangan gunakan tameng hormon yang bergejolak lagi untuk menafsirkan moodmu yang tak karuan. Jangan juga kekurangan ide ini itu. Kita melangkah sekarang juga.  Kereta sudah melewati stasiun no...

Aku... Tidak Suka Mengajar Saat Ini

 Sudah tujuh tahun lebih mengajar, dan inilah akhirnya, titik jenuh pertamaku yang sangat akut. Kupikir akan membaik di tahun baru ini. Nyatanya tidak. Sama saja kalau tidak semakin buruk. Aku tiba-tiba saja merasa lelah jika harus memikirkan rencana mengajar. Memikirkan urutan pembelajaran tidak lagi membuatku bersenang-senang.  Aku hanya ingin cepat pulang setiap hari. Burnout. Aku pusing sekali Ya Allah. Aku tidak ingin di sini. Tapi semuanya serba bertentangan. Aku akan tetap di sini bahkan 10 tahun ke depan. Toloong. Aku tidak suka mengajar hari ini. Semoga hanya hari ini.

Dear, Tukang Cuanki eh Dear Suami.

Aku sedang berada di fase ingin menjalani kehidupan dengan baik. Emosi masih suka naik turun, apalagi pada pak suami hihi. Namun begitu emosiku selesai, aku ingin tetap memiliki progres yang baik. Salah satunya soal kesehatan. Aku ingin sehat, maka ikhtiar paling mungkin saat ini, olehraga kecil-kecilan. Aku meluangkan waktu untuk berjalan di sore hari sekitar 15-30 menit untuk jalan kaki. Targetku 6.000 langkah per hari, namun saat ini baru bisa setengahnya. Kemarin sore, aku berjalan-jalan dengan rute rumah, ipp, lalu nongkrong di mesjid As-Sya'diyah. Suansana sore kemarin, sejuk dan tidak terlalu berangin. Nyaman sekali. Karena suami sudah pulang, aku memutuskan untuk memintanya menjemput kami. Btw tentu saja aku menggendong anakku di depan. Suami pun setuju, otw. Setelah mengobrol singkat, aku pesan cuanki, dia pesan es kopi. Kami makan dengan lahap dan tak lupa mengajak si kecil untuk makan meski masih GTM nasi. Selesai makan, kami kembali bersantai. Aku mendadak ingin merekam...

Serba Terburu

Hari ini langkahku serba terburu. Bangun pagi dan menghangatkan nasi. Menyiapkan diri dan mengantar anak. Mengendarai motor ke rumah lalu ke sekolah. Menyiapkan supervisi di pagi hari. Membersamai anak-anak ke museum. Pulang ke sekolah dan mengisi survei. Pulang sekolah dan pergi top up. Rumah. Memasak dan makan. Pergi menjemput anak. Pulang menyuapi makan. Menyiapkan makan. Makan. Menidurkan anak. Hari ini serba terburu. Kakiku pegal tak menentu. Badanku lelah tak karuan. Hanya saja ada hiburan, ia bilang kebaikanku dilipatgandakan. Itu saja cukup. Ketika pikiran jernih, ini bukan apa-apa. Hanya rutinitas yang belum terbiasa. Pakaian kotor mencuat dari keranjangnya. Piring dan gelas kotor saling bertumpuk tak beraturan. Kemarin dan hari ini, separuhku sedang sakit. Ini rasanya pincang dengan dua kaki. Cepat sembuh sayang.

Piring-piring Kotor

Hai piring-piring kotor yang selalu kusimpan di bawah kompor. Malam ini, kubuatkan sebuah puisi untukmu. Bertumpuk-tumpuk dengan lelah, dirimu Berdiam dalam dingin Kalian enggan bertikai Di penghujung hari ini, cukup tenggelamkan diri dalam larutan pikiran masing-masing Tak mau bertanya, tak mau ditanya Tak mau ambil pusing Jiwamu hampa Besok, kau akan berhadapan kembali dengan kecap, saus sambal, minyak Berjibaku dengan panas dan pedas Berebut tempat dengan si panci dan wajan gendut Aku tak tahu bagaimana caranya agar kalian bahagia Dicuci? Sabun cair warna hijau itu selalu mengejek kalian Kusam dan lengket Bersih adalah jasa si sabun Kalian tak senang dicuci Hai piring-piring kotor Malam ini, tidurlah lebih awal Mimpi dalam tidurmu mungkin lebih menghibur  dari bangunmu. Selamat tidur.

Belum Sembuh

Sepertinya memang ada satu bagian yang belum sembuh pada diriku. Panggil saja ia luka tak bernama. Biasa saja, seperti orang lain, aku pun punya. Hari ini, aku tahu ia masih ada. Seperti sepenggal cerita yang lupa dihapus. Seperti bait puisi yang tak tuntas. Seperti pesan berakhir tanda koma. Berangkat kerja, rasanya seperti mau masuk wajib militer. Tak jelas apa yang membuat enggan, yang jelas, perasaan tak menyenangkan itu sangat kentara. Mereka baik, tentu saja, setidaknya di depanku. Namun aku tidak mau bergabung. Aku tidak mau tahu cerita mereka lebih jauh. Aku tidak mau terlibat lebih dalam. Aku hanya ingin di duniaku sendiri. Datang, kerja, pulang. Dapat gaji. Serius? Ga ada pemaknaan lebih dalam? kamu guru loh. Untuk saat ini, aku ingin seperti ini dulu. Jujur sangatlah membantu dalam merilis emosi. Setidaknya aku bisa jujur pada diri sendiri. Sulit mengatakan ini pada pihak lain karena dari luar aku terlihat terlalu baik-baik saja. Daripada disalahpahami atau mendapat respon y...

Mom Brain

Katanya, otak seorang ibu memang berubah setelah melahirkan anak. Gampang lupa. Kalau istilah komputer, barangkali juga mudah nge-hang. Aku merasakannya sendiri. Sulit mencerna pernyataan panjang seseorang, apalagi yang tiba-tiba curhat tanpa pembukaan. Tidak menjelaskan duduk masalahnya. Ga ada konteks. Penyebab utamanya adalah kelelahan. Bukan hanya seputar mengurus anak, tapi juga ketika mulai bekerja, berinteraksi dengan lingkungan baru, budaya baru, tuntutan yang baru. Aku tidak lagi merasa antusias. Aku ingin menjadi manusia biasa saja, kalau bisa invisible. Aku tidak ingin dinotice. Tidak mau tahu urusan gosip kelompok sebelah. Aku juga tidak mau tahu aib-aib senior. Aku hanya ingin menjalani hari dengan tenang, tanpa harus mengingat banyak hal. Otatakku menolak bekerja lebih keras. Aku bisa menangis lebih dari sekali dalam sehari. Semuanya kulipat diam-diam, aku tidak mau mendapat pertanyaan. Tanya 'mengapa' akan membuat otakku berpikir keras. Sedangkan aku juga tidak t...

Hari-hariku Dua Bulan ke Belakang

Setiap bangun tidur, tubuhku terasa lelah bukan main. Namun di saat bersamaan, pikiranku langsung tertuju pada runtutan tugas pagi itu. "Ah, aku harus menanak nasi" "Aku juga harus memasak mpasi" "Sarapan pake apa ya?" "Mandi dulu deh, sekarang hari senin..." Setelah mandi Menanak nasi itu urutannya : nyuci beras, masak nasi, kukus nasi, mendinginkan nasi Bikin mpasi itu urutannya : cemplung nasi, cemplung lauk, sayur, bumbu, blender, masukin ke kontainer Masak lauk : kocok telur, bumbu-bumbu, goreng Manasin air : masukin air ke teko, simpan teko di kompor Di sela-sela itu, kalau si kecil tidak dijaga ayahnya, aku akan bolak-balik menjaganya. Lalu keringat sudah bercucuran lagi. Makan, sambil menyeduh kopi yang entah sempat diminum atau tidak. Lalu pakai baju, make up, sambil nonton tekotok. Biasanya di waktu-waktu ini pengasuh datang. Tiba-tiba saja lima menit lagi menuju pukul 7. Pulang kerja, badan sudah tentu cape, namun bahagia bertemu lagi ...

Empat Ribu Perak

Seharian tadi, di dompetku hanya ada uang sejumlah empat ribu perak. Udara yang panas selalu membuatku ingin pergi memesan segelas es kopi. Namun melihat kondisi uang seperti itu, aku urungkan niat. Aku menahan lapar di sela lelahnya hari, mengajar dan mengobservasi mahasiswa yang sedang praktik. Keuangan sedang diuji, dan konon itulah ujian paling mutlak yang selalu hadir pada awal-awal fase pernikahan. Aku sudah mempersiapkan diri untuk itu. Bulan ini, kami benar-benar sedang diuji. Tabungan terkuras habis. Diantaranya aku harus beli laptop agar pekerjaanku tidak terhambat. Lalu uang untuk menggaji pengasuh si kecil. Rata-rata bisa menghabiskan hampir 40% penghasian kami berdua. Lalu, alhamdulillah aku terpanggil untuk PPG, dan untuk itu aku harus mengurus beberapa dokumen, yang tentu saja berbayar. Alhamdulillah, Allah cukupkan. Aku berdo'a dan mengulang-ulang keyakinanku bahwa yang mengurus kami adalah Allah. Pokoknya serumit apapun, Allah akan atur agar kami menemui jalan kelu...